TOKYO/LONDON,METROSELEBES.COM-Nilai tukar euro terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melonjak ke level tertinggi dalam satu bulan pada hari Senin (26/05/2025), menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda penerapan tarif impor sebesar 50% terhadap barang-barang dari Uni Eropa.
Penundaan ini dilakukan setelah Uni Eropa meminta tambahan waktu guna mencapai kesepakatan dagang yang menguntungkan kedua belah pihak.
Langkah mundur Trump ini disambut positif oleh pasar keuangan global. Euro menguat hingga 0,55% ke posisi $1,1418—level tertingginya sejak 29 April—sebelum akhirnya stabil di $1,1394, mencatat kenaikan tahunan sebesar 10%. Penguatan ini mencerminkan optimisme pelaku pasar bahwa konflik dagang AS-UE mungkin tidak akan mencapai titik ekstrem seperti yang sempat dikhawatirkan.
Baca Juga: Trump Isyaratkan Terobosan dalam Negosiasi Nuklir dengan Iran
Sterling juga ikut menguat, mencatat kenaikan 0,39% dan menyentuh level tertinggi sejak Februari 2022, terakhir diperdagangkan di angka $1,3574. Sementara itu, meskipun sentimen pasar membaik dan menekan permintaan aset aman (safe haven), yen Jepang dan franc Swiss tetap menguat terhadap dolar AS. Dolar turun 0,24% ke level terendah bulan ini di 142,23 yen, dan juga melemah ke posisi terendah dalam dua setengah minggu terhadap franc di angka 0,8193.
Baca Juga: Macron Kunjungi Vietnam: Teken Kesepakatan Airbus dan Satelit, Perkuat Kerja Sama Pertahanan
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama lainnya, turun 0,15% menjadi 98,93—memperpanjang penurunan sebesar 1,9% dari pekan lalu. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran investor terhadap arah kebijakan ekonomi AS yang semakin tidak menentu.
Baca Juga: BI Longgarkan Aturan, Perbankan Dapat Napas Baru Jelang Paruh Kedua 2025
Trump mengumumkan penundaan tarif tersebut hingga 9 Juli, setelah melakukan pembicaraan dengan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen. Tanggal tersebut menandai akhir dari jeda 90 hari sejak pengumuman tarif “Hari Pembebasan” pada 2 April lalu. Keputusan yang datang hanya dua hari setelah ancaman tarif diumumkan ini menunjukkan betapa cepat dan drastis kebijakan perdagangan AS dapat berubah.
"Tema ‘Jual Amerika’ yang sempat mendominasi pasar pada April kini kembali menguat," ujar Ray Attrill, Kepala Riset Valas di National Australia Bank. "Pasar tampaknya menilai—dan mungkin dengan tepat—bahwa akhir dari kisruh tarif AS-UE tidak akan separah 50%. Tapi bagaimana kita sampai ke titik itu, masih jadi tanda tanya besar."
Baca Juga: Hong Kong Siap Tampung Mahasiswa Asing Usai Harvard Dilarang Terima Pelajar Internasional
Artikel Terkait
Hong Kong Siap Tampung Mahasiswa Asing Usai Harvard Dilarang Terima Pelajar Internasional
BI Longgarkan Aturan, Perbankan Dapat Napas Baru Jelang Paruh Kedua 2025
Macron Kunjungi Vietnam: Teken Kesepakatan Airbus dan Satelit, Perkuat Kerja Sama Pertahanan
Trump Isyaratkan Terobosan dalam Negosiasi Nuklir dengan Iran
Harmoni Cinta Dua Budaya: Pernikahan Al Ghazali & Alyssa Daguise Bak Konser Keluarga Musik Legendaris
Resepsi Pernikahan Al Ghazali, Maia Estianty Absen: Bay Indonesia
Dana Parpol Mau Naik 10 Kali Lipat? Ini Penegasan Puan Maharani soal Efisiensi dan Kepentingan Rakyat
Koperasi Merah Putih Jadi Simbol Kebangkitan Ekonomi Desa 2025"
Reformasi Birokrasi Bermoral: Wajah Baru Kementerian Agama Menuju 2029
Pasar Global Bergejolak: Nvidia Tutup Musim Laporan Keuangan di Tengah Ancaman Inflasi dan Volatilitas Obligasi