Negosiasi Damai Rusia–Ukraina Kembali Buntu, Tuntutan Moskwa Dianggap Tak Masuk Akal

photo author
REDAKSI, Metro Selebes
- Sabtu, 17 Mei 2025 | 22:01 WIB
Bendera negara Rusia dan Ukraina.  (Foto : freepik.com)
Bendera negara Rusia dan Ukraina. (Foto : freepik.com)

ISTANBUL, METROSELEBES.COM – Harapan dunia akan perdamaian antara Rusia dan Ukraina kembali pupus setelah negosiasi tatap muka pertama dalam tiga tahun terakhir berakhir tanpa hasil di Istanbul, Turkiye, Jumat, 16 Mei 2025.

Pertemuan yang hanya berlangsung dua jam itu gagal menghasilkan terobosan apapun. Delegasi kedua negara justru kembali memperlihatkan jurang perbedaan yang dalam, membuat upaya diplomatik terasa makin jauh dari kata berhasil.

Baca Juga: Kim Jong Un Pimpin Latihan Udara Besar-Besaran, Korea Utara Siaga Perang Total

“Rusia mengajukan tuntutan yang jauh melampaui apa pun yang pernah dibahas sebelumnya,” ungkap seorang sumber kepada Reuters, Sabtu, 17 Mei 2025.

Tuntutan yang diajukan Moskwa dinilai tidak masuk akal dan dianggap kontraproduktif terhadap semangat negosiasi yang selama ini dibangun oleh komunitas internasional.

Dari pihak Ukraina, Presiden Volodymyr Zelensky menegaskan bahwa Kyiv tetap berpegang pada prinsip penghentian serangan tanpa syarat.

Baca Juga: Pemerintah AS Soroti Kerja Sama Apple dan Alibaba Soal Teknologi AI di iPhone

“Jika Rusia menolak gencatan senjata, maka Moskwa harus bersiap menghadapi sanksi baru yang lebih kuat, khususnya di sektor energi dan perbankan,” tegas Zelensky.

Sementara itu, Moskwa mengklaim masih membuka ruang untuk solusi diplomatik, namun menuding Ukraina memanfaatkan jeda konflik untuk memperkuat militernya melalui bantuan negara-negara Barat.

Delegasi Rusia dalam pertemuan di Istanbul dipimpin oleh Vladimir Medinsky, ajudan dekat Presiden Vladimir Putin, bersama sejumlah pejabat tinggi seperti Wakil Menteri Pertahanan Alexander Fomin dan Wakil Menteri Luar Negeri Mikhail Galuzin.

Baca Juga: Inggris Serukan Dialog Damai India-Pakistan dan Peringatkan Ancaman Krisis Air

Dari pihak Ukraina, Menteri Pertahanan Rustem Umerov memimpin delegasi dengan menekankan urgensi penghentian kekerasan.

Pertemuan ini sendiri merupakan yang pertama sejak invasi Rusia ke Ukraina meletus pada Februari 2022, menandai tiga tahun komunikasi yang nyaris beku di level tertinggi.

Menariknya, pertemuan Istanbul berlangsung hanya sehari setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke kawasan Timur Tengah.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mahful Haruna

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X