Reuters juga melaporkan bahwa Shein saat ini menyewa gudang besar di Vietnam – langkah yang dianggap bisa mengurangi risiko dari ketegangan perdagangan China-AS yang tak menentu.
Baca Juga: AS Longgarkan Tarif Impor Paket Kecil dari China, Era Emas E-commerce Mulai Meredup
Cathay, yang berbasis di bandara kargo terbesar dunia, sudah memperingatkan bulan lalu bahwa permintaan kargo udara antara Tiongkok daratan dan AS akan melemah mulai bulan ini karena dampak kenaikan tarif. Hingga berita ini diterbitkan, Cathay belum memberikan komentar.
Menurut data Rotate, kapasitas kargo dari China dan Hong Kong ke AS turun 26% antara 2 Mei (ketika pembebasan de minimis ditangguhkan) hingga 13 Mei, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dibandingkan rata-rata empat minggu sebelumnya, kapasitas turun 30%.
Korea Selatan – pusat logistik kargo yang juga diuntungkan oleh volume e-commerce dari China – mengalami penurunan kapasitas 22% dalam periode yang sama. Korean Air pada April lalu sudah memperkirakan akan ada volatilitas permintaan kargo akibat tarif baru.
Baca Juga: AS Longgarkan Tarif Impor dari China, E-Commerce Bernapas Lega
Tren ini membalikkan peningkatan kapasitas rata-rata 15% dari China dan 14% dari Korea Selatan selama 12 bulan sebelumnya. Atlas Air, maskapai berbasis di AS yang mengoperasikan kapasitas terbesar di rute China-AS, mencatat penurunan kapasitas 28%. Cathay Pacific hanya turun 2%, sementara China Southern yang dimiliki negara China anjlok 30%.
Bagi maskapai dengan pesawat khusus kargo, sektor ini menjadi penyelamat selama pandemi saat penerbangan penumpang internasional hampir seluruhnya berhenti.
Sejumlah maskapai Asia-Pasifik dalam laporan keuangannya mengindikasikan akan mengalihkan kapasitas kargo ke rute lain guna mengatasi fluktuasi permintaan.