“Hasil underwriting menjadi kunci utama. Bila hasilnya merosot, maka laba perusahaan juga ikut terdampak. Belum lagi tekanan dari sisi investasi,” ujar Budi dalam konferensi pers kinerja AAUI di Jakarta, Rabu, 5 Maret 2025.
Dari sisi underwriting, industri mencatatkan defisit Rp1,52 triliun pada 2024, berbanding terbalik dengan surplus Rp19,46 triliun pada 2023.
Tekanan semakin berat dengan lonjakan cadangan premi dari Rp3,44 triliun menjadi Rp22,27 triliun, serta cadangan klaim dari Rp1,25 triliun menjadi Rp5,08 triliun.
Kondisi ini menjadi alarm keras bagi industri asuransi nasional untuk memperkuat strategi mitigasi risiko, memperluas edukasi publik, dan mendorong sinergi pemerintah dalam memperkuat ketahanan terhadap dampak krisis iklim yang makin nyata. ***
Artikel Terkait
Wakil Wali Kota Palu Imelda Liliana Muhidin Lepas 172 Calon Jamaah Haji Kloter 8 Tahun 2025
Kepala BGN Evaluasi Penyajian dan Pengiriman MBG Usai KLB Keracunan di Bogor
Viral Grup Facebook 'Fantasi Sedarah', DPR Desak Polisi dan Komdigi Bertindak Tegas
Regulasi Baru, Pemerintah Batasi Promo Gratis Ongkir E-Commerce Maksimal Tiga Hari Per Bulan
Terseret dalam Kasus Ijazah Jokowi, Abraham Samad Kaget: Saya Tidak Ada Hubungannya!
Kapolres Tojo Una-Una Laksanakan Kunjungan Kerja Ke Wilayah Polsek Wakep dan Desa Kabalutan
Honda Jazz 2025 Hadir Lebih Stylish dan Canggih, Siap Jadi Primadona Mobil Perkotaan
Tetap Pertahankan Warisan Legendaris; Toyota Kijang Super 2025 Hadir Lebih Modern, Nyaman dan Tetap Andal
Tak Disangka, Pemuda Ini Duet Bareng Dewi Persik dan Jadi Sorotan Nasional
Dua WNI Asal Jawa Barat Ditangkap Otoritas Arab Saudi, Diduga Terlibat Haji Ilegal Bersama Jemaah Malaysia