US$20 Miliar Melayang Akibat Cuaca Ekstrem, Industri Asuransi Asia dan Indonesia Tertekan Berat

photo author
REDAKSI, Metro Selebes
- Sabtu, 17 Mei 2025 | 08:29 WIB
Foto Ilustrasi. Industri asuransi Asia mengalami disrupsi akibat kerugian ekonomi di 2024.  (Foto : Pixabay/Oleg Gamulinski)
Foto Ilustrasi. Industri asuransi Asia mengalami disrupsi akibat kerugian ekonomi di 2024. (Foto : Pixabay/Oleg Gamulinski)

JAKARTA, METROSELEBES.COM – Industri asuransi global, termasuk Indonesia, menghadapi tekanan berat sepanjang 2024 akibat lonjakan bencana cuaca ekstrem yang tidak diimbangi dengan perlindungan finansial memadai.

Laporan terbaru WTW mencatat kerugian ekonomi global akibat cuaca ekstrem tahun 2024 lalu mencapai lebih dari US$20 miliar atau sekitar Rp328 triliun, namun hanya US$2 hingga US$3 miliar yang ditanggung asuransi.

Baca Juga: Dua WNI Asal Jawa Barat Ditangkap Otoritas Arab Saudi, Diduga Terlibat Haji Ilegal Bersama Jemaah Malaysia

Situasi ini mengungkap jurang besar dalam perlindungan asuransi, terutama di kawasan Asia yang dinilai paling rentan namun paling rendah tingkat penetrasi asuransinya.

Menurut laporan Insurance Asia, Kamis, 15 Mei 2025, musim topan di wilayah Pasifik Utara mencatatkan 23 badai tropis, 15 di antaranya meningkat menjadi topan, dan 9 berintensitas tinggi.

Meski jumlah tersebut tidak melampaui rata-rata tahunan, kerusakan fisik dan ekonomi justru membengkak akibat lokasi pendaratan yang padat penduduk serta kekuatan badai yang ekstrem.

Baca Juga: Terseret dalam Kasus Ijazah Jokowi, Abraham Samad Kaget: Saya Tidak Ada Hubungannya!

Topan Yagi menjadi salah satu yang paling merusak, melanda kawasan Asia Tenggara dan menewaskan sedikitnya 1.200 orang, dengan total kerugian mencapai US$15 miliar.

Namun, dari jumlah tersebut, hanya sekitar US$1 miliar yang tercakup dalam polis asuransi. Di wilayah China Selatan dan Vietnam, rendahnya kepemilikan asuransi menjadi sorotan tajam di tengah badai yang melaju dengan kecepatan hingga 160 mph.

Nasib serupa juga terjadi di Jepang saat Topan Shanshan menerjang. Meskipun infrastruktur tergolong maju, nilai klaim tetap di bawah US$1 miliar karena wilayah terdampak tidak dilindungi secara maksimal.

Baca Juga: Kepala BGN Evaluasi Penyajian dan Pengiriman MBG Usai KLB Keracunan di Bogor

Sementara di Filipina, enam badai menghantam dalam waktu satu bulan, memengaruhi lebih dari 13 juta jiwa dan mencatat kerugian US$500 juta—dengan mayoritas korban tidak memiliki asuransi.

Tekanan serupa dirasakan industri asuransi umum di Indonesia. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, laba setelah pajak sektor ini anjlok dari Rp7,80 triliun pada 2023 menjadi rugi Rp10,14 triliun pada 2024—terjun bebas hingga 197,8 persen.

Ketua Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI), Budi Herawan, menyebut penurunan ini dipicu oleh hasil underwriting yang melemah tajam, serta kenaikan signifikan pada cadangan premi dan cadangan klaim.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Mahful Haruna

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X