NEW DELHI,METROSELEBES.COM— Ketegangan diplomatik antara India dan China kembali mencuat setelah pemerintah India dengan tegas menolak langkah terbaru Beijing yang mengganti nama sejumlah lokasi di negara bagian Arunachal Pradesh, wilayah perbatasan di timur laut India yang telah lama menjadi sengketa antara kedua negara.
Baca Juga: AS Longgarkan Tarif Impor Paket Kecil dari China, Era Emas E-commerce Mulai Meredup
Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, menyatakan pada Rabu (14/05/2025) bahwa upaya “kreatif” China dalam memberi nama baru pada wilayah tersebut tidak akan mengubah kenyataan bahwa Arunachal Pradesh adalah bagian tak terpisahkan dari Republik India.
“Pemberian nama secara sepihak tidak akan mengubah fakta yang tak terbantahkan bahwa Arunachal Pradesh adalah, dan akan selalu menjadi, bagian integral serta tidak terpisahkan dari India,” tegas Jaiswal.
Baca Juga: Eropa Bersiap Cekik Ekonomi Rusia: Prancis Desak Sanksi Penghabisan
Langkah ini bukan yang pertama dilakukan oleh Beijing. Tahun lalu, China juga mengganti nama sekitar 30 lokasi di Arunachal Pradesh. Dalam pernyataannya, pemerintah India saat itu menyebut tindakan tersebut sebagai "tidak masuk akal" dan menegaskan kembali kedaulatannya atas wilayah tersebut.
China bersikeras bahwa Arunachal Pradesh—yang mereka sebut sebagai “Zangnan”—merupakan bagian dari Tibet Selatan, klaim yang secara konsisten ditolak oleh New Delhi. Dalam konferensi pers di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menyebutkan bahwa penamaan tersebut adalah bagian dari “standarisasi nama-nama tempat di wilayah yang sepenuhnya berada dalam kedaulatan China.”
Baca Juga: Langkah Mengejutkan: Trump Temui Presiden Suriah, Isyaratkan Normalisasi Hubungan
Perselisihan perbatasan antara India dan China telah berlangsung lama, dengan garis demarkasi sepanjang 3.800 kilometer yang masih belum sepenuhnya ditetapkan. Sengketa ini memuncak pada tahun 2020 saat terjadi bentrokan mematikan di wilayah perbatasan barat Himalaya, yang menewaskan 20 tentara India dan 4 tentara China. Meski kedua negara mencapai kesepakatan untuk menarik pasukan dari beberapa titik konflik pada Oktober lalu, hubungan diplomatik tetap rapuh.
Baca Juga: PS5 Melambat, Sony Tetap Tancap Gas Lewat Game Eksklusif
Situasi ini diperburuk dengan eskalasi ketegangan yang baru terjadi antara India dan Pakistan. Dalam beberapa hari terakhir, kedua negara terlibat dalam pertempuran singkat yang melibatkan penggunaan jet tempur, rudal, dan drone, menyusul serangan teror yang menewaskan 26 turis Hindu di Kashmir pada 22 April. India menuding Pakistan sebagai dalang serangan tersebut dan membalas dengan meluncurkan serangan udara terhadap apa yang disebutnya sebagai kamp militan di wilayah Pakistan dan Kashmir yang dikuasai Pakistan. Islamabad membantah keterlibatan dan mengklaim bahwa serangan India menyasar target sipil.
Baca Juga: Nyaris Meletus Perang Nuklir: Saat Rudal Terbang dan Telepon Diplomasi Menyelamatkan Dunia