WASHINGTON,METROSELEBES.COM-Badan keselamatan kendaraan bermotor Amerika Serikat (National Highway Traffic Safety Administration/NHTSA) sedang menghadapi krisis besar setelah kehilangan lebih dari seperempat tenaga kerjanya, menyusul program insentif keuangan untuk pengunduran diri yang diperkenalkan oleh pemerintahan Presiden Donald Trump. Seperti dikutip dari Reuters pada Jumat (18/0/07/2025).
Baca Juga: Uber Investasikan 0 Juta ke Lucid untuk Luncurkan 20.000 Robotaxi Mulai 2026
Data yang dikirimkan ke Kongres dan diperoleh Reuters menunjukkan bahwa jumlah pegawai NHTSA menurun drastis dari 772 orang per 31 Mei menjadi hanya 555 orang. Badan ini merupakan bagian dari Departemen Transportasi AS (USDOT) dan memiliki peran penting dalam penyelidikan serta penegakan regulasi keselamatan kendaraan bermotor.
Kondisi serupa juga terjadi di Federal Highway Administration dan Federal Transit Administration, yang sama-sama kehilangan lebih dari 25% dari jumlah stafnya.
Anggota Kongres Rick Larsen, yang merupakan Demokrat senior di Komite Transportasi dan Infrastruktur DPR, menyatakan keprihatinannya terhadap pemangkasan ini. Ia mempertanyakan kemampuan USDOT untuk mempercepat proyek dan menjaga keselamatan publik dengan jumlah staf yang menipis drastis.
Secara keseluruhan, USDOT diperkirakan akan kehilangan lebih dari 4.100 pegawai, turun dari hampir 57.000 menjadi sekitar 52.862 orang. Di antara jumlah tersebut, Federal Aviation Administration (FAA) menjadi lembaga dengan pengurangan terbesar, yakni sebanyak 2.137 pekerja.
Baca Juga: DPR Soroti Kinerja Lemah Kemendag, Anggaran Diminta Bukti Nyata
Menteri Transportasi Sean Duffy menyatakan bahwa keputusan soal pemutusan hubungan kerja (PHK) masih belum final. “Jika ada kelebihan tenaga kerja di area tertentu, maka kami akan lakukan pengurangan. Namun, kami juga terbuka untuk merekrut kembali di area yang membutuhkan,” katanya kepada wartawan, seraya menambahkan bahwa staf yang terkait langsung dengan keselamatan tidak akan tersentuh oleh pemangkasan ini.
Duffy juga mengonfirmasi bahwa pemerintah tengah berupaya menambah jumlah pengatur lalu lintas udara (air traffic controllers), sebuah langkah yang dianggap vital untuk menjaga keselamatan penerbangan.
Artikel Terkait
Akses Penuh Amerika ke Sumber Daya RI: Kesepakatan Bebas Tarif yang Mengejutkan”
Amran Sulaiman Ungkap Modus Pengoplosan Beras, Kerugian Negara Capai Rp99 Triliun Per Tahun
MK Dinilai Menyimpang, DPR Tegaskan Pemilu Harus Tetap Lima Tahunan
Kapolri Merasa Tak Pantas: Keteladanan Polisi Peraih Hoegeng Awards 2025 Tuai Pujian
Penurunan Tarif Impor Jadi Momentum Emas Diplomasi Dagang RI-AS
Ledakan Mengguncang Jantung Damaskus, Wartawan Al Jazeera Nyaris Jadi Korban Serangan Udara Israel DAMASKUS,
Mimpi Besar di Grup Neraka: Timnas Indonesia Siap Hadapi Arab Saudi dan Irak di Kualifikasi Piala Dunia 2026
Kopdes Merah Putih: Tiga Tahap Bangun Kemandirian Ekonomi Desa
DPR Soroti Kinerja Lemah Kemendag, Anggaran Diminta Bukti Nyata
Uber Investasikan $300 Juta ke Lucid untuk Luncurkan 20.000 Robotaxi Mulai 2026