"Kami bahagia, sangat bahagia. Siapa pun yang menjadi mediator atau bagaimana itu terjadi, tidak penting. Perangnya sudah selesai. Seharusnya tidak pernah dimulai," ujar Reza Sharifi (38), warga Teheran yang kembali dari pengungsian di Rasht, kepada Reuters melalui sambungan telepon.
Arik Daimant, seorang insinyur perangkat lunak di Tel Aviv, mengatakan, "Sayangnya, sudah terlambat bagi saya dan keluarga, karena rumah kami hancur total dalam pengeboman hari Minggu lalu. Tapi seperti kata pepatah: 'lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.' Saya berharap ini awal baru."
Trump sebelumnya mengumumkan gencatan senjata melalui Truth Social dengan pesan tegas: “GENCATAN SENJATA TELAH BERLAKU. TOLONG JANGAN LANGGAR!”
Namun kini, setelah pelanggaran dari kedua belah pihak, masa depan perdamaian masih bergantung pada apakah mereka mampu menahan diri atau kembali terseret ke dalam spiral konflik.
Artikel Terkait
DPR RI Desak Gencatan Senjata Global: Puan Maharani Serukan Aksi Nyata Atasi Konflik Iran-Israel
Sidang Uji Materi UU MD3: Meritokrasi Diuji, Gender Tak Jadi Tolak Ukur Tunggal
Gencatan Senjata Goyah: Israel Serang Balik Iran Setelah Diduga Langgar Kesepakatan, Dunia Tarik Napas Lega
DPR RI Buka Masa Sidang IV, Fokus Tangani PHK dan Stimulus Ekonomi
Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel-Iran, Tapi Banyak Pertanyaan Besar Masih Menggantung
RI Mengorbit: RIDU-SAT 1, Satelit Nano Karya Unhan RI Resmi Mengudara
HIPMI Digitalisasi Desa: Dorong Koperasi Merah Putih Jadi Motor Ekonomi Milenial
Jerome Powell Tetap Pimpin The Fed, Trump Terbatas Dalam Opsi Penunjukan Baru
Kopdes Merah Putih Ceria Sembako Hadirkan Revolusi Logistik Desa
Euro dan Yen Menguat, Harga Minyak Anjlok Usai Gencatan Senjata Israel-Iran, Dolar Tertekan