Euro dan Yen Menguat, Harga Minyak Anjlok Usai Gencatan Senjata Israel-Iran, Dolar Tertekan

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Selasa, 24 Juni 2025 | 18:34 WIB
Seorang karyawan memegang uang kertas dolar AS di tempat penukaran uang di Jakarta, Indonesia, pada 9 April 2025. Source FOTO: REUTERS
Seorang karyawan memegang uang kertas dolar AS di tempat penukaran uang di Jakarta, Indonesia, pada 9 April 2025. Source FOTO: REUTERS

JAKARTA,METROSELEBES.COM-Nilai tukar euro dan yen melonjak terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa, setelah pengumuman gencatan senjata antara Israel dan Iran mendorong penurunan tajam harga minyak global. Meskipun demikian, pelaku pasar tetap berhati-hati terhadap ketidakpastian yang masih menyelimuti kawasan Timur Tengah. Seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (24/06/2025).

 

Kesepakatan gencatan senjata ini memicu penurunan harga minyak sebesar 2,9%, sementara pasar saham global melonjak. Berkurangnya ancaman terhadap jalur pelayaran vital di Selat Hormuz disambut baik pasar, namun para analis memperingatkan bahwa ketidakpastian masih tinggi.

Baca Juga: Jerome Powell Tetap Pimpin The Fed, Trump Terbatas Dalam Opsi Penunjukan Baru

“Kita belum tahu apakah konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran benar-benar telah berakhir,” ujar Kit Juckes, ahli strategi makro dari Societe Generale, merujuk pada laporan adanya peluncuran rudal lanjutan. Ia juga menyoroti bahwa dampak serangan ke Iran terhadap stabilitas kepemimpinannya masih belum jelas.

 

Dari sisi pasar mata uang, euro naik 0,16% ke level $1,1597, mendekati level tertingginya sejak Oktober 2021. Penguatan ini didorong oleh skeptisisme pasar bahwa konflik akan kembali memanas, serta posisi investor yang mulai menjauhi dolar. Yen Jepang juga menguat signifikan, dengan dolar AS melemah 0,74% ke 145,07 yen.

Baca Juga: Trump Umumkan Gencatan Senjata Israel-Iran, Tapi Banyak Pertanyaan Besar Masih Menggantung

Analis valuta asing dari ING, Francesco Pesole, menyatakan bahwa euro saat ini lebih banyak diuntungkan karena investor mengurangi posisi beli dolar dan menjadikannya sebagai alternatif, bukan karena fundamental ekonomi zona euro yang kuat. “Penurunan harga minyak juga membantu meredam kekhawatiran terhadap pelemahan fundamental euro,” ujarnya.

 

Di sisi lain, mata uang berisiko seperti dolar Australia dan Selandia Baru ikut terdorong naik. Dolar Australia menguat 0,75% ke $0,6510, sedangkan dolar Selandia Baru melonjak 0,95% ke $0,6034. Sementara itu, mata uang Israel, shekel, menguat tajam 1,9% terhadap dolar, mencapai level tertinggi sejak Februari 2023.

Baca Juga: Gencatan Senjata Goyah: Israel Serang Balik Iran Setelah Diduga Langgar Kesepakatan, Dunia Tarik Napas Lega

Tekanan terhadap dolar AS juga diperparah oleh pernyataan dovish dari pejabat Federal Reserve, Michelle Bowman, yang menyarankan agar bank sentral segera mempertimbangkan pemangkasan suku bunga. Hal ini menyebabkan imbal hasil obligasi AS turun, dan memperlemah posisi dolar secara keseluruhan.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X