Diplomasi Didesak, Sementara Trump Pertimbangkan Aksi Militer di Tengah Perang Udara Iran-Israel

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Jumat, 20 Juni 2025 | 17:49 WIB
Pemandangan mobil-mobil yang hangus terbakar dan bangunan tempat tinggal yang rusak di lokasi dampak setelah serangan rudal Iran ke Israel, di Be'er Sheva, Israel, 20 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS
Pemandangan mobil-mobil yang hangus terbakar dan bangunan tempat tinggal yang rusak di lokasi dampak setelah serangan rudal Iran ke Israel, di Be'er Sheva, Israel, 20 Juni 2025. Source FOTO: REUTERS

Baca Juga: Dibalik Gemerlap Nikel Morowali: Pelanggaran Lingkungan dan Desakan Bentuk Otorita Baru

Sehari sebelumnya, Iran menghantam rumah sakit besar di kota yang sama. Iran mengklaim menargetkan markas militer Israel yang berada dekat rumah sakit tersebut, namun Israel membantah keberadaan fasilitas militer di area tersebut.

 

Sebagai balasan, Israel melancarkan serangan udara ke pusat kota Teheran, menargetkan situs produksi rudal dan fasilitas riset senjata nuklir.

 

Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, juga memperingatkan kemungkinan tindakan terhadap kelompok Hezbollah, sekutu Iran di Lebanon, yang sebelumnya menyatakan siap membantu Iran jika konflik membesar.

Baca Juga: Prabowo Buka Jakarta Fair 2025: Inovasi dan Pemberdayaan Jadi Mesin Bangkitnya Ekonomi Rakyat

Israel diketahui telah berperang di beberapa front sejak kelompok Hamas melancarkan serangan pada Oktober 2023, yang memicu perang di Gaza.

 

Kondisi Internal Iran: Oposisi Terpecah dan Ketakutan Meluas

 

Di tengah ancaman eksternal terbesar sejak Revolusi 1979, kelompok oposisi Iran melihat peluang untuk perubahan. Namun para aktivis yang pernah terlibat dalam demonstrasi sebelumnya menolak memicu kerusuhan massal saat ini, mengingat situasi yang sangat berbahaya.

Baca Juga: Dibalik Gemerlap Nikel Morowali: Pelanggaran Lingkungan dan Desakan Bentuk Otorita Baru

“Bagaimana orang bisa turun ke jalan dalam kondisi mengerikan seperti ini? Saat ini, fokus utama rakyat hanyalah menyelamatkan diri mereka sendiri, keluarga, sesama warga, bahkan hewan peliharaan mereka,” ujar Atena Daemi, seorang aktivis yang pernah dipenjara selama enam tahun sebelum akhirnya meninggalkan Iran.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X