DUBAI,METROSELEBES.COM-Oposisi Iran yang terpecah belah mulai melihat peluang untuk melakukan perubahan besar dalam sejarah negara tersebut, tetapi para aktivis yang pernah terlibat dalam gelombang protes sebelumnya masih enggan untuk kembali menggerakkan massa. Dengan Iran yang kini berada di bawah serangan udara Israel, banyak yang merasa waktu belum tepat untuk menggelar unjuk rasa besar-besaran—meskipun kebencian terhadap rezim terus membara. Dikutip dari Reuters pada Kamis (19/06/2025).
Baca Juga: Bertemu Putin, Prabowo Bahas Langkah Awal Indonesia Miliki Energi Nuklir
Seruan untuk protes datang dari para tokoh oposisi di pengasingan, termasuk kelompok separatis Kurdi dan Baluchi yang tampak siap bangkit di wilayah perbatasan. Di saat yang sama, serangan Israel menghantam jantung kekuatan keamanan Iran, membuat Republik Islam terlihat lebih rapuh daripada hampir seluruh periode sejak Revolusi 1979.
Namun, meski tekanan terhadap sistem pemerintahan yang telah berkuasa selama 46 tahun itu meningkat, perubahan nyata hampir mustahil terjadi tanpa gerakan rakyat yang masif. Dan hingga kini, apakah gerakan semacam itu akan muncul dalam waktu dekat masih menjadi perdebatan.
Salah satu tokoh sentral oposisi, Reza Pahlavi—putra mendiang Shah Iran yang tinggal di Amerika Serikat—menyatakan bahwa inilah saat terbaik dalam empat dekade terakhir untuk menjatuhkan Republik Islam. Dalam wawancara media pekan ini, ia menyebut “ini adalah momen kita dalam sejarah” dan menyatakan kesiapannya memimpin transisi politik.
Baca Juga: China Evakuasi Warganya dari Iran dan Israel, Peringatkan Kemacetan di Perbatasan
Sementara itu, Israel secara terbuka menyatakan bahwa pergantian rezim di Iran adalah salah satu tujuan strategis mereka. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan menyampaikan pesan kepada rakyat Iran, mengatakan bahwa Israel sedang “membuka jalan” bagi mereka untuk meraih kebebasan.
Aktivis Dalam Negeri: Antara Trauma dan Ketakutan
Di dalam negeri, tanda-tanda kesiapan rezim menghadapi protes terlihat jelas. Mohammad Amin, anggota milisi Basij di kota suci Qom, menyatakan bahwa unitnya telah siaga untuk “menangkal mata-mata Israel” dan melindungi Republik Islam.
Baca Juga: 7,3 Juta Peserta PBI JKN Dinonaktifkan, Kuota Nasional Tetap Aman
Artikel Terkait
7,3 Juta Peserta PBI JKN Dinonaktifkan, Kuota Nasional Tetap Aman
Pendidikan Jadi Garda Terdepan Atasi Kemiskinan Ekstrem, Menko PMT Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
China Evakuasi Warganya dari Iran dan Israel, Peringatkan Kemacetan di Perbatasan
Bertemu Putin, Prabowo Bahas Langkah Awal Indonesia Miliki Energi Nuklir
Benarkah Israel Targetkan Pergantian Rezim Iran? Ini Motif dan Manuvernya di Timur Tengah
Keseimbangan Tak Setara: Israel Vs Iran dalam Kekuatan Militer Modern
Dibalik Gemerlap Nikel Morowali: Pelanggaran Lingkungan dan Desakan Bentuk Otorita Baru
80 Ribu Koperasi Merah Putih Siap Dibangun, Proyek Percontohan Dimulai Akhir Juli
75 Tahun Diplomasi Erat, Indonesia–Rusia Sepakati Langkah Strategis Baru di Bidang Investasi dan Pendidikan
Prabowo Buka Jakarta Fair 2025: Inovasi dan Pemberdayaan Jadi Mesin Bangkitnya Ekonomi Rakyat