Di Tengah Serangan Israel, Oposisi Iran Bingung Menentukan Arah

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Jumat, 20 Juni 2025 | 06:15 WIB
Seorang pria memegang gambar Reza Pahlavi saat orang-orang memprotes rezim Iran, menyusul kematian Mahsa Amini, di luar konsulat Iran, di London, Inggris, 9 Oktober 2022. Source FOTO: REUTERS
Seorang pria memegang gambar Reza Pahlavi saat orang-orang memprotes rezim Iran, menyusul kematian Mahsa Amini, di luar konsulat Iran, di London, Inggris, 9 Oktober 2022. Source FOTO: REUTERS

DUBAI,METROSELEBES.COM-Oposisi Iran yang terpecah belah mulai melihat peluang untuk melakukan perubahan besar dalam sejarah negara tersebut, tetapi para aktivis yang pernah terlibat dalam gelombang protes sebelumnya masih enggan untuk kembali menggerakkan massa. Dengan Iran yang kini berada di bawah serangan udara Israel, banyak yang merasa waktu belum tepat untuk menggelar unjuk rasa besar-besaran—meskipun kebencian terhadap rezim terus membara. Dikutip dari Reuters pada Kamis (19/06/2025).

Baca Juga: Bertemu Putin, Prabowo Bahas Langkah Awal Indonesia Miliki Energi Nuklir

Seruan untuk protes datang dari para tokoh oposisi di pengasingan, termasuk kelompok separatis Kurdi dan Baluchi yang tampak siap bangkit di wilayah perbatasan. Di saat yang sama, serangan Israel menghantam jantung kekuatan keamanan Iran, membuat Republik Islam terlihat lebih rapuh daripada hampir seluruh periode sejak Revolusi 1979.

 

Namun, meski tekanan terhadap sistem pemerintahan yang telah berkuasa selama 46 tahun itu meningkat, perubahan nyata hampir mustahil terjadi tanpa gerakan rakyat yang masif. Dan hingga kini, apakah gerakan semacam itu akan muncul dalam waktu dekat masih menjadi perdebatan.

 

Salah satu tokoh sentral oposisi, Reza Pahlavi—putra mendiang Shah Iran yang tinggal di Amerika Serikat—menyatakan bahwa inilah saat terbaik dalam empat dekade terakhir untuk menjatuhkan Republik Islam. Dalam wawancara media pekan ini, ia menyebut “ini adalah momen kita dalam sejarah” dan menyatakan kesiapannya memimpin transisi politik.

Baca Juga: China Evakuasi Warganya dari Iran dan Israel, Peringatkan Kemacetan di Perbatasan

Sementara itu, Israel secara terbuka menyatakan bahwa pergantian rezim di Iran adalah salah satu tujuan strategis mereka. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu bahkan menyampaikan pesan kepada rakyat Iran, mengatakan bahwa Israel sedang “membuka jalan” bagi mereka untuk meraih kebebasan.

 

Aktivis Dalam Negeri: Antara Trauma dan Ketakutan

 

Di dalam negeri, tanda-tanda kesiapan rezim menghadapi protes terlihat jelas. Mohammad Amin, anggota milisi Basij di kota suci Qom, menyatakan bahwa unitnya telah siaga untuk “menangkal mata-mata Israel” dan melindungi Republik Islam.

Baca Juga: 7,3 Juta Peserta PBI JKN Dinonaktifkan, Kuota Nasional Tetap Aman

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X