Mereda Setelah Memanas: Thailand dan Kamboja Sepakat Mundur ke Posisi Semula di Tengah Ketegangan Perbatasan

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Minggu, 8 Juni 2025 | 21:02 WIB
Seorang aktivis pendukung kerajaan memegang bendera Thailand saat melakukan unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Kerajaan Kamboja, menyusul bentrokan terbaru di perbatasan Thailand-Kamboja pada 28 Mei 2025, di Bangkok, Thailand. Source FOTO: REUTERS
Seorang aktivis pendukung kerajaan memegang bendera Thailand saat melakukan unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Kerajaan Kamboja, menyusul bentrokan terbaru di perbatasan Thailand-Kamboja pada 28 Mei 2025, di Bangkok, Thailand. Source FOTO: REUTERS

BANGKOK,METROSELEBRS.COM-Setelah ketegangan meningkat akibat bentrokan mematikan di wilayah perbatasan yang belum ditetapkan secara resmi, Thailand dan Kamboja akhirnya mencapai kesepakatan untuk mengembalikan pasukan militer mereka ke posisi semula yang telah disepakati pada tahun 2024. Hal ini diumumkan oleh Menteri Pertahanan Thailand, Phumtham Wechayachai, usai pertemuan bilateral pada Minggu (08/06/2025).

Baca Juga: Iran Kecam Keras Larangan Bepergian AS: Bentuk Permusuhan Mendalam terhadap Iran dan Muslim

Ketegangan antara kedua negara meningkat tajam setelah seorang tentara Kamboja tewas dalam bentrokan pada 28 Mei 2025 di wilayah perbatasan yang masih disengketakan. Kedua belah pihak sempat memperkuat kehadiran militer di sepanjang perbatasan, yang memicu kekhawatiran akan potensi konflik lanjutan.

 

Dalam pernyataannya, Phumtham menyebut bahwa kedua negara sepakat untuk menurunkan eskalasi dengan kembali ke posisi masing-masing seperti yang telah diatur dalam kesepakatan sebelumnya. Ia juga menyatakan bahwa Thailand dan Kamboja berharap sengketa perbatasan ini dapat diselesaikan secara menyeluruh melalui pertemuan Komite Perbatasan Bersama (Joint Boundary Committee) yang dijadwalkan pada 14 Juni mendatang.

Baca Juga: Bukan Pulau Gag, Aktivitas Dua Perusahaan Ini Justru Ancam Geopark Raja Ampat

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Kamboja belum memberikan tanggapan resmi terkait kesepakatan tersebut. Namun sebelumnya, pihak Kamboja telah mengirimkan surat pada 6 Juni yang kembali meminta agar sengketa perbatasan ini dibawa ke Mahkamah Internasional (ICJ), mengingat kompleksitas dan sensitivitas sejarah panjang konflik ini.

 

"Dengan mempertimbangkan sifat yang kompleks dan sensitif secara historis, semakin jelas bahwa dialog bilateral semata mungkin tidak cukup untuk menghasilkan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan," kata Menteri Luar Negeri Kamboja, Prak Sokhonn, dalam pernyataan yang dibagikan kepada media.

Baca Juga: Menteri Lingkuan Hidup Tegaskan Operasional PT GAG Nikel Sesuai Aturan, Tapi Izin Tambang di Pulau Kecil Tetap Akan Ditinjau

Namun, Thailand menolak yurisdiksi Mahkamah Internasional dalam perkara ini dan menegaskan bahwa semua permasalahan perbatasan sebaiknya diselesaikan melalui negosiasi bilateral.

 

Sebagai langkah antisipatif atas potensi kerusuhan lanjutan, pemerintah Thailand pada Minggu juga mengumumkan pengurangan jam operasional di 10 pos perbatasan dengan Kamboja karena alasan keamanan. Beberapa pos penting, termasuk yang tersibuk di Provinsi Sa Kaeo, kini hanya beroperasi dari pukul 08.00 hingga 16.00 waktu setempat, berkurang dari sebelumnya pukul 06.00 hingga 22.00.

Baca Juga: Empat Warga Palestina Tewas Ditembak Militer Israel di Dekat Lokasi Distribusi Bantuan di Gaza Selatan

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X