RAJA AMPAT, METROSELEBES.COM – Sorotan publik terhadap aktivitas tambang nikel di kawasan Raja Ampat kian memanas, menyusul viralnya kekhawatiran soal ancaman terhadap keindahan alam dan ekosistem laut kawasan tersebut.
Namun, polemik yang selama ini mengarah pada PT GAG Nikel di Pulau Gag justru dinilai keliru oleh sejumlah tokoh daerah.
Anggota DPD RI asal Papua Barat Daya, Paul Finsen Mayor, menegaskan bahwa perhatian mestinya difokuskan pada dua perusahaan tambang baru yang beroperasi di kawasan suaka alam perairan Raja Ampat, yakni PT Mulia Raymond Perkasa (MRP) di Pulau Manyefun dan Batang Pele, serta PT Anugerah Pertiwi Indotama (API) di Kepulauan Paam.
“Kunjungan Menteri ESDM ke Pulau Gag itu salah sasaran. Justru izin baru yang menimbulkan protes masyarakat berada di Manyefun, Batang Pele, dan Paam,” kata Paul dalam keterangannya kepada wartawan, Minggu 8 Juni 2025.
Paul menyebut kedua perusahaan tersebut memperoleh izin usaha pertambangan (IUP) tanpa proses kajian publik yang komprehensif, sehingga menimbulkan keresahan terkait dampak terhadap ekosistem pesisir dan laut yang sangat sensitif.
Baca Juga: Fadli Zon Soroti Tambang Nikel Raja Ampat: Investasi Jangan Ganggu Situs Sejarah dan Alam
Ia menyoroti jarak Pulau Manyefun dan Batang Pele yang hanya sekitar 29 kilometer dari Piaynemo, ikon wisata unggulan Raja Ampat.
Menurutnya, jarak yang sangat dekat itu menjadi ancaman serius bagi kelestarian pariwisata dan ekonomi masyarakat setempat.
Peringatan serupa disampaikan Patrick Nathanael Lintamoni, seorang pemandu wisata sekaligus pegiat konservasi.
Ia menyebut aktivitas pertambangan di sekitar Pulau Yevnabi yang dikenal sebagai “cleaning station” bagi ikan pari manta dan paus sperma berpotensi merusak habitat krusial yang telah lama dijaga.
Baca Juga: Bahlil Tegaskan Izin Tambang PT GAG Nikel Terbit Sebelum Dirinya Jadi Menteri
“Yevnabi hanya berjarak 15 kilometer dari Batang Pele. Itu tempat bayi manta dan paus sperma membersihkan tubuhnya. Kalau rusak, maka hilanglah daya tarik wisata alam kita,” tegas Patrick.
Patrick juga menyebut lima pulau konservasi—Manyefun, Waisilip, Bianci, Mutus, dan Nyos Manggara masih terjaga sejauh ini. Namun, ia mempertanyakan siapa yang bisa menjamin kelestarian ekosistem bila kegiatan tambang benar-benar dimulai di sekitarnya.
Artikel Terkait
Bhabinkamtibmas Ueralulu Ajak Warga Bersatu Lawan Paham Radikalisme
Egy Maulana Vikri Tak Gentar Hadapi Jepang: Skuad Utama, Kedua, Atau Ketiga, Kami Siap Tempur
Kunjungi Pulau Gag, Menteri Bahlil Disambut Warga yang Minta Tambang Nikel Tetap Beroperasi
Komisi III DPR RI Tolak Wacana Legalisasi Kasino, Hasbiallah Ilyas: Belum Waktunya ada di Indonesia
Gubernur Papua Barat Daya Tegaskan Pulau Gag Tak Tercemar Tambang Nikel: Pemberitaan Itu Hoak
Kunjungi Nduga Papua Pegunungan, Sri Mulyani Pakai Rompi Antipeluru: Mungkin Belum Pernah Ada Menteri Keuangan ke Sini
Ganjar Sindir Soal Pertemuan Prabowo-Megawati: Nasi Gorengnya Belum Dimakan
Menteri Lingkungan Hidup Tegaskan PT GAG Nikel Tak Langgar Aturan, Ungkap Dua Perusahaan Lain Rusak Lingkungan Raja Ampat
Empat Warga Palestina Tewas Ditembak Militer Israel di Dekat Lokasi Distribusi Bantuan di Gaza Selatan
Menteri Lingkuan Hidup Tegaskan Operasional PT GAG Nikel Sesuai Aturan, Tapi Izin Tambang di Pulau Kecil Tetap Akan Ditinjau