Israel Temukan Jenazah Sandera Thailand di Gaza, Serangan Udara Tewaskan 15 Warga Palestina

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Sabtu, 7 Juni 2025 | 19:45 WIB
Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, memperhatikan situasi di tengah konflik yang sedang berlangsung di Gaza antara Israel dan Hamas, di Yerusalem, 7 November 2024. Source FOTO: REUTERS
Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, memperhatikan situasi di tengah konflik yang sedang berlangsung di Gaza antara Israel dan Hamas, di Yerusalem, 7 November 2024. Source FOTO: REUTERS

Kementerian Kesehatan Palestina memperingatkan bahwa rumah sakit-rumah sakit di Gaza hanya memiliki persediaan bahan bakar untuk tiga hari ke depan. Sementara itu, pasokan dari lembaga bantuan internasional masih terhambat karena pembatasan akses oleh Israel, termasuk ke lokasi penyimpanan bahan bakar untuk fasilitas medis.

Baca Juga: Trump: Ketua The Fed Baru Segera Diumumkan, Harus Siap Turunkan Bunga

Distribusi Bantuan Dihentikan. Lembaga kemanusiaan Gaza Humanitarian Foundation (GHF), yang didukung AS dan Israel, menghentikan distribusi bantuan pada Jumat karena kondisi kerumunan yang tidak aman. Sebelumnya pada 1–3 Juni, lebih dari 80 orang dilaporkan tewas dan ratusan terluka saat berebut bantuan di titik distribusi.

 

GHF, yang mulai menyalurkan bantuan akhir Mei lalu, menyatakan telah mendistribusikan sekitar 9 juta paket makanan. Namun, model distribusi baru yang mereka jalankan dikritik oleh PBB karena dianggap tidak netral dan tidak adil.

 

Tekanan Internasional dan Ketidakpastian Perdamaian. Dengan lebih dari 54.000 warga Palestina tewas dan sebagian besar wilayah Gaza hancur, Israel menghadapi tekanan internasional yang terus meningkat. Mayoritas korban disebut sebagai warga sipil, dan lebih dari dua juta penduduk Gaza kini berada di ambang kelaparan, menurut PBB.

Baca Juga: Putusan Kontroversial: Mahkamah Agung AS Dukung DOGE Akses Data Sensitif Warga

Sementara itu, keluarga para sandera yang masih ditahan menyuarakan keprihatinan bahwa ofensif militer justru membahayakan keselamatan para sandera yang masih hidup, dan membuat jenazah yang sudah meninggal tak akan pernah bisa ditemukan kembali.

 

Israel tetap bersikukuh bahwa kampanye militer ini bertujuan membebaskan seluruh sandera dan mengakhiri kekuasaan Hamas di Gaza. Sejauh ini, lebih dari 40 sandera dilaporkan tewas dalam penahanan—baik karena dibunuh oleh penculik maupun terkena dampak serangan militer Israel sendiri.

Baca Juga: Retaknya Aliansi Trump-Musk: Perseteruan Terbuka Ancam Stabilitas Politik dan Ekonomi AS

Perang yang dipicu oleh serangan mengejutkan Hamas pada Oktober 2023, yang menewaskan 1.200 orang di Israel, terus berlanjut tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X