Musalem: Risiko Inflasi Berkepanjangan Akibat Tarif Trump Capai 50%, The Fed Waspada Hingga Musim Panas

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Sabtu, 7 Juni 2025 | 17:49 WIB
Alberto Musalem, Presiden dan CEO Federal Reserve Bank of St. Louis, berbicara kepada Economic Club of New York, di New York City, Amerika Serikat, pada 20 Februari 2025. Source FOTO: REUTERS
Alberto Musalem, Presiden dan CEO Federal Reserve Bank of St. Louis, berbicara kepada Economic Club of New York, di New York City, Amerika Serikat, pada 20 Februari 2025. Source FOTO: REUTERS

METROSELEBES.COM-St. Louis, Presiden Federal Reserve Bank of St. Louis, Alberto Musalem, memperkirakan peluang terjadinya lonjakan inflasi jangka panjang akibat kebijakan tarif perdagangan mantan Presiden Donald Trump mencapai 50 persen. Hal ini disampaikan Musalem dalam wawancaranya dengan Financial Times, menandakan kekhawatiran bank sentral terhadap ketidakpastian ekonomi yang berpotensi berlangsung hingga musim panas tahun ini. Seperti dikutip dari Reuters pada Jumat, (06/06/2025).

Baca Juga: Inflasi Terkendali, ECB Siap Akhiri Pemangkasan Suku Bunga

Menurut Musalem, penerapan tarif baru dapat mendorong inflasi dalam jangka pendek, yakni selama satu atau dua kuartal. Namun, ia menegaskan bahwa ada kemungkinan yang sama besar bahwa dampaknya terhadap harga bisa jauh lebih tahan lama.

 

“Ini situasi 50-50. Bisa saja inflasi mereda setelah satu kuartal, atau justru menetap lebih lama,” ujar Musalem dalam wawancara tersebut.

Baca Juga: Trump: Ketua The Fed Baru Segera Diumumkan, Harus Siap Turunkan Bunga

Ketidakpastian semakin diperparah dengan pengesahan undang-undang anggaran senilai $2,4 triliun yang baru-baru ini mengguncang pasar keuangan. Akibatnya, Federal Reserve memilih bersikap hati-hati dan mempertahankan suku bunga tetap setelah serangkaian pemangkasan pada tahun lalu.

 

Meski begitu, Musalem mengungkapkan adanya kemungkinan skenario yang lebih optimis. Jika ketidakpastian perdagangan dan kebijakan fiskal mereda pada bulan Juli, The Fed bisa kembali melanjutkan rencana pemangkasan suku bunga pada bulan September.

Baca Juga: Retaknya Aliansi Trump-Musk: Perseteruan Terbuka Ancam Stabilitas Politik dan Ekonomi AS

Namun, ia juga mengingatkan bahwa lonjakan inflasi yang terjadi bisa jadi bukan hanya fenomena sementara. "Ada risiko bahwa inflasi akan mulai meningkat secara signifikan, dan kita tidak tahu apakah ini hanya kenaikan harga satu kali atau sesuatu yang lebih persisten," katanya.

 

Diperkirakan, The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pertengahan Juni mendatang, di mana mereka juga akan merilis proyeksi ekonomi terbaru.

Baca Juga: Trump: Ketua The Fed Baru Segera Diumumkan, Harus Siap Turunkan Bunga

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X