SINGAPURA,METROSELEBES.COM-Harga minyak mentah global melonjak lebih dari $1 per barel pada Senin pagi setelah kelompok produsen OPEC+ memutuskan untuk tetap menaikkan produksi sebesar 411.000 barel per hari (bph) pada bulan Juli, jumlah yang sama seperti dua bulan sebelumnya. Keputusan ini mengejutkan sebagian pelaku pasar yang sebelumnya khawatir akan adanya kenaikan produksi yang lebih besar. Seperti dikutip dari Reuters pada Senin (02/06/2025).
Baca Juga: Perang Dagang Trump Guncang Ekonomi Global: Dari Tarif Ekspor Gila-Gilaan hingga Drama Pengadilan
Harga minyak Brent tercatat naik $1,46 atau 2,33% menjadi $64,24 per barel pada pukul 06.26 GMT, setelah turun 0,9% pada sesi perdagangan Jumat lalu. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik $1,66 atau 2,73% menjadi $62,45 per barel, setelah mencatat penurunan 0,3% pada hari sebelumnya.
Kedua kontrak acuan tersebut masih mencatat penurunan mingguan lebih dari 1% pada pekan lalu. Namun, keputusan OPEC+ memberikan angin segar di tengah kekhawatiran pasar atas potensi lonjakan produksi yang lebih agresif.
Baca Juga: Upaya Perdamaian Diblokir: Israel Gagalkan Kunjungan Menteri Arab ke Palestina
Kelompok OPEC+, yang terdiri dari negara-negara anggota OPEC dan sekutu mereka termasuk Rusia, telah secara konsisten menaikkan produksi sebesar 411.000 bph sejak Mei. Langkah ini merupakan bagian dari strategi untuk merebut kembali pangsa pasar serta menekan negara-negara anggota yang secara konsisten melampaui kuota produksi mereka, seperti Irak dan Kazakhstan.
"Jika mereka memutuskan kenaikan produksi yang lebih besar dari perkiraan, harga minyak pada pembukaan hari Senin kemungkinan akan jatuh tajam," ujar analis Onyx Capital Group, Harry Tchilinguirian, melalui unggahannya di LinkedIn.
Baca Juga: Trump dan Xi Akan Berdialog di Tengah Ketegangan Perdagangan Mineral Kritis
Para pelaku pasar menyatakan bahwa kenaikan 411.000 bph ini sudah diperhitungkan dalam harga kontrak berjangka Brent dan WTI. Menurut catatan Commonwealth Bank of Australia, motivasi utama OPEC+ adalah untuk menegakkan disiplin produksi di antara anggota-anggotanya.
Kazakhstan sendiri telah menyatakan kepada OPEC bahwa mereka tidak berencana mengurangi produksi minyaknya, berdasarkan laporan dari kantor berita Rusia, Interfax, yang mengutip wakil menteri energi negara tersebut.
Baca Juga: Dari Jalanan Hong Kong ke Pameran di Taipei: Perjuangan Fu Tong Tak Berakhir
Artikel Terkait
India Klaim Taktik Baru Sukses Kalahkan Pakistan dalam Konflik Terbaru
Taiwan Pastikan Utang AS Aman, Dolar AS Tetap Dominan Sebagai Mata Uang Cadangan Dunia
Mampukah Pertemuan di Istanbul Hentikan Perang Ukraina-Rusia?
Flayer Undian BRImo Festival, Kepala BRI Palu : Itu Tidak Benar Alias Hoax
Kopdes Merah Putih Capai 75 Ribu: Bukti Nyata Kolaborasi Lintas Sektor Bangun Ekonomi Desa
Panen Tetap Cuan di Musim Kemarau: Ini 7 Tanaman Tahan Kering yang Cocok untuk Petani Indonesia”
Dari Jalanan Hong Kong ke Pameran di Taipei: Perjuangan Fu Tong Tak Berakhir
Trump dan Xi Akan Berdialog di Tengah Ketegangan Perdagangan Mineral Kritis
Upaya Perdamaian Diblokir: Israel Gagalkan Kunjungan Menteri Arab ke Palestina
Perang Dagang Trump Guncang Ekonomi Global: Dari Tarif Ekspor Gila-Gilaan hingga Drama Pengadilan