AMMAN,METROSELEBES.COM-Penolakan Israel terhadap rencana kunjungan delegasi menteri luar negeri Arab ke wilayah pendudukan Tepi Barat menuai kecaman keras dari sejumlah negara Arab. Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al-Saud, menyebut keputusan Israel tersebut sebagai bukti nyata ekstremisme dan penolakan terhadap perdamaian. Seperti dikutip dari Reuters pada Minggu (01/06/2025).
Baca Juga: Trump dan Xi Akan Berdialog di Tengah Ketegangan Perdagangan Mineral Kritis
Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers bersama di Amman, Yordania, bersama mitra sejawat dari Yordania, Mesir, dan Bahrain. Keempatnya merupakan bagian dari Komite Kontak Arab yang dijadwalkan bertemu Presiden Palestina Mahmoud Abbas di Ramallah, Tepi Barat.
"Penolakan Israel terhadap kunjungan komite ke Tepi Barat mencerminkan dan menegaskan ekstremismenya serta penolakan terhadap upaya serius membangun jalan damai," ujar Pangeran Faisal. "Hal ini justru memperkuat tekad kami untuk menggandakan upaya diplomatik di komunitas internasional guna menghadapi arogansi ini."
Baca Juga: Dari Jalanan Hong Kong ke Pameran di Taipei: Perjuangan Fu Tong Tak Berakhir
Rencana pertemuan pada hari Minggu yang mencakup kehadiran menteri luar negeri dari Yordania, Mesir, Arab Saudi, Qatar, dan Uni Emirat Arab digagalkan oleh keputusan Israel, menurut pernyataan dari pejabat Otoritas Palestina. Kunjungan Pangeran Faisal ke Tepi Barat sejatinya akan menjadi yang pertama oleh pejabat tinggi Saudi dalam beberapa dekade terakhir.
Seorang pejabat Israel membela keputusan tersebut dengan menyebut rencana pertemuan sebagai "provokasi" yang bertujuan untuk mendorong pembentukan negara Palestina.
Baca Juga: Mampukah Pertemuan di Istanbul Hentikan Perang Ukraina-Rusia?
Menteri Luar Negeri Yordania, Ayman Safadi, menyebut tindakan Israel sebagai langkah lain dalam "membunuh setiap peluang untuk penyelesaian Arab-Israel yang adil dan komprehensif."
Di tengah ketegangan yang terus meningkat, dunia internasional akan menggelar Konferensi Internasional di New York pada 17-20 Juni 2025, yang diketuai bersama oleh Prancis dan Arab Saudi. Konferensi ini bertujuan membahas masa depan negara Palestina, termasuk pengaturan keamanan pasca-gencatan senjata di Gaza serta rencana rekonstruksi yang bertujuan mencegah pengusiran warga Palestina dari tanah mereka.
Baca Juga: Taiwan Pastikan Utang AS Aman, Dolar AS Tetap Dominan Sebagai Mata Uang Cadangan Dunia
Artikel Terkait
Apakah Google Akan Kehilangan Dominasi di Dunia Pencarian? Berikut Penjelasannya.!!
Hakim AS Pertimbangkan Sanksi Lebih Ringan bagi Google dalam Kasus Monopoli Mesin Pencari
India Klaim Taktik Baru Sukses Kalahkan Pakistan dalam Konflik Terbaru
Taiwan Pastikan Utang AS Aman, Dolar AS Tetap Dominan Sebagai Mata Uang Cadangan Dunia
Mampukah Pertemuan di Istanbul Hentikan Perang Ukraina-Rusia?
Flayer Undian BRImo Festival, Kepala BRI Palu : Itu Tidak Benar Alias Hoax
Kopdes Merah Putih Capai 75 Ribu: Bukti Nyata Kolaborasi Lintas Sektor Bangun Ekonomi Desa
Panen Tetap Cuan di Musim Kemarau: Ini 7 Tanaman Tahan Kering yang Cocok untuk Petani Indonesia”
Dari Jalanan Hong Kong ke Pameran di Taipei: Perjuangan Fu Tong Tak Berakhir
Trump dan Xi Akan Berdialog di Tengah Ketegangan Perdagangan Mineral Kritis