Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, yang menjadi tuan rumah pembicaraan, menegaskan bahwa negaranya tetap berkomitmen untuk menjalankan peran sebagai mediator perdamaian.
Di tengah upaya diplomasi ini, tekanan datang dari mantan Presiden AS, Donald Trump, yang disebut-sebut berpengaruh dalam dinamika negosiasi. Trump dilaporkan mendesak kedua belah pihak untuk mengakhiri “perang bodoh” ini, bahkan mengancam akan menghentikan peran AS dalam memediasi jika tak ada kemajuan nyata.
Baca Juga: Harapan Baru Damai Rusia-Ukraina: Apakah Jalan Menuju Perdamaian Terbuka Kembali?
Menyusul mandeknya pembicaraan, Ukraina mulai menggalang dukungan dari negara-negara Barat untuk mengambil sikap lebih tegas terhadap Rusia. Menteri Luar Negeri Inggris, David Lammy, menuding Rusia kembali mengaburkan niat damai. “Kita melihat ketidakseriusan dari pihak Rusia. Sampai kapan kita membiarkan Putin bermain-main dengan perdamaian?” ujarnya saat berkunjung ke Pakistan.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyampaikan kekecewaannya. “Hari ini, hasilnya nol. Menghadapi sinisme Putin, saya yakin Trump tidak akan tinggal diam demi kredibilitas AS,” kata Macron.
Baca Juga: Biden Kritik Trump soal Ukraina: “Menyerah pada Rusia Adalah Penenangan Gaya Baru
Sementara itu, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengungkapkan bahwa Uni Eropa tengah merancang paket sanksi baru terhadap Moskow. Namun efektivitas sanksi tambahan ini masih dipertanyakan, mengingat sanksi sebelumnya selama tiga tahun belum berhasil menghentikan agresi Rusia.
Upaya Ukraina dan Eropa untuk menyatukan front melawan Moskow pun kerap terganggu oleh manuver politik Trump. Ia sebelumnya mendesak Zelenskiy menerima tawaran pembicaraan langsung dengan Rusia di Turki, namun belakangan menyatakan tidak akan mendukung perdamaian sebelum ia sendiri bertemu Putin.
Baca Juga: Trump Tarik Diri dari Jalur Damai, AS-Ukraina Kunci Aliansi Ekonomi dan Militer
Kremlin menyatakan bahwa Putin terbuka untuk bertemu dengan Trump, namun pertemuan tersebut harus dipersiapkan secara matang demi mencapai hasil konkret. Hingga kini, belum ada kontak langsung antara Moskow dan Washington pasca pembicaraan di Istanbul.