Sementara itu, gelombang protes dalam negeri selama bertahun-tahun memiliki fokus berbeda: pada 2009 terkait dugaan kecurangan pemilu; pada 2017 karena kondisi ekonomi yang memburuk; dan pada 2022 karena hak-hak perempuan.
Tokoh reformis Mir-Hossein Mousavi—yang jadi simbol protes 2009—masih berada dalam tahanan rumah dan kini telah berusia 83 tahun. Ia pernah mengusung agenda reformasi dalam sistem Republik Islam, berbeda dengan tuntutan pengunjuk rasa masa kini yang menginginkan perubahan total.
Dengan semakin intensifnya serangan udara Israel dan ketidakpastian politik yang melanda, pertanyaan tentang kapan, bagaimana, dan siapa yang akan memimpin perubahan di Iran menjadi semakin mendesak—namun tetap belum menemukan jawaban pasti.
Artikel Terkait
7,3 Juta Peserta PBI JKN Dinonaktifkan, Kuota Nasional Tetap Aman
Pendidikan Jadi Garda Terdepan Atasi Kemiskinan Ekstrem, Menko PMT Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
China Evakuasi Warganya dari Iran dan Israel, Peringatkan Kemacetan di Perbatasan
Bertemu Putin, Prabowo Bahas Langkah Awal Indonesia Miliki Energi Nuklir
Benarkah Israel Targetkan Pergantian Rezim Iran? Ini Motif dan Manuvernya di Timur Tengah
Keseimbangan Tak Setara: Israel Vs Iran dalam Kekuatan Militer Modern
Dibalik Gemerlap Nikel Morowali: Pelanggaran Lingkungan dan Desakan Bentuk Otorita Baru
80 Ribu Koperasi Merah Putih Siap Dibangun, Proyek Percontohan Dimulai Akhir Juli
75 Tahun Diplomasi Erat, Indonesia–Rusia Sepakati Langkah Strategis Baru di Bidang Investasi dan Pendidikan
Prabowo Buka Jakarta Fair 2025: Inovasi dan Pemberdayaan Jadi Mesin Bangkitnya Ekonomi Rakyat