Benarkah Israel Targetkan Pergantian Rezim Iran? Ini Motif dan Manuvernya di Timur Tengah

photo author
Abdul Rifai, Metro Selebes
- Kamis, 19 Juni 2025 | 22:01 WIB
Serangan udara Israel menewaskan sejumlah tokoh penting Garda Revolusi Iran, meninggalkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam kesepian strategis. Kehilangan penasihat inti ini memicu kekhawatiran akan salah langkah di tengah memuncaknya konflik regional dan krisis dalam negeri
Serangan udara Israel menewaskan sejumlah tokoh penting Garda Revolusi Iran, meninggalkan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam kesepian strategis. Kehilangan penasihat inti ini memicu kekhawatiran akan salah langkah di tengah memuncaknya konflik regional dan krisis dalam negeri

 

TEL AVIV – METROSELEBES.COM – Ketegangan antara Israel dan Iran kembali mencuat ke permukaan setelah muncul analisis dan pernyataan dari sejumlah pejabat intelijen bahwa Israel secara strategis menargetkan perubahan rezim Iran sebagai bagian dari langkah jangka panjang mengamankan kawasan Timur Tengah dari pengaruh kekuatan Syiah yang dianggap mengancam stabilitas regional.

Dalam laporan dari beberapa analis keamanan regional, termasuk laporan terbaru dari lembaga think tank Institute for National Security Studies (INSS) di Israel, disebutkan bahwa "strategi melemahkan pengaruh Teheran bukan sekadar soal nuklir, tapi juga soal struktur pemerintahan."

Dengan kata lain, keberlangsungan kekuasaan ulama di Iran dinilai sebagai ancaman utama terhadap dominasi strategis Israel di kawasan.

Baca Juga: China Evakuasi Warganya dari Iran dan Israel, Peringatkan Kemacetan di Perbatasan

Pernyataan-pernyataan serupa sebelumnya juga pernah terlontar secara tidak langsung oleh mantan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menyebut Iran sebagai "ancaman eksistensial".

Beberapa operasi intelijen seperti pembunuhan ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh pada 2020 dan serangan siber terhadap fasilitas nuklir Natanz diyakini merupakan bagian dari strategi menekan dan mengacaukan stabilitas internal Iran.

Namun, arah baru yang terlihat saat ini tampaknya lebih dari sekadar pencegahan nuklir.

Israel diduga mendukung kelompok oposisi tertentu, baik secara informasi maupun logistik, yang berpotensi menekan pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei dari dalam.

Baca Juga: Israel Gempur PLTN Bushehr, Serangan Terbesar ke Fasilitas Nuklir Iran

Operasi semacam ini disebut sebagai "operasi non-konvensional" yang menyasar destabilisasi politik internal Iran.

Sementara itu, Iran menuduh Israel dan AS berada di balik upaya sabotase dan terorisme di dalam negeri. Sebuah pernyataan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyebut, “Upaya mereka untuk menjatuhkan sistem Islam kami tidak akan berhasil.

Rakyat Iran akan tetap bersatu menghadapi agresi asing.”

Pakar geopolitik Timur Tengah dari Universitas Teheran, Dr. Morteza Alavi, menilai bahwa ketegangan ini bukan hanya persoalan ideologi, tetapi merupakan upaya untuk mengatur ulang kekuatan hegemonik di kawasan.

“Israel berkepentingan agar Iran melemah dari dalam, karena Teheran merupakan tulang punggung perlawanan di Suriah, Lebanon (Hezbollah), Irak, hingga Yaman (Houthi),” ujarnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Abdul Rifai

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X