TEL AVIV – METROSELEBES.COM – Ketegangan antara Israel dan Iran kembali mencuat ke permukaan setelah muncul analisis dan pernyataan dari sejumlah pejabat intelijen bahwa Israel secara strategis menargetkan perubahan rezim Iran sebagai bagian dari langkah jangka panjang mengamankan kawasan Timur Tengah dari pengaruh kekuatan Syiah yang dianggap mengancam stabilitas regional.
Dalam laporan dari beberapa analis keamanan regional, termasuk laporan terbaru dari lembaga think tank Institute for National Security Studies (INSS) di Israel, disebutkan bahwa "strategi melemahkan pengaruh Teheran bukan sekadar soal nuklir, tapi juga soal struktur pemerintahan."
Dengan kata lain, keberlangsungan kekuasaan ulama di Iran dinilai sebagai ancaman utama terhadap dominasi strategis Israel di kawasan.
Baca Juga: China Evakuasi Warganya dari Iran dan Israel, Peringatkan Kemacetan di Perbatasan
Pernyataan-pernyataan serupa sebelumnya juga pernah terlontar secara tidak langsung oleh mantan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, yang menyebut Iran sebagai "ancaman eksistensial".
Beberapa operasi intelijen seperti pembunuhan ilmuwan nuklir Mohsen Fakhrizadeh pada 2020 dan serangan siber terhadap fasilitas nuklir Natanz diyakini merupakan bagian dari strategi menekan dan mengacaukan stabilitas internal Iran.
Namun, arah baru yang terlihat saat ini tampaknya lebih dari sekadar pencegahan nuklir.
Israel diduga mendukung kelompok oposisi tertentu, baik secara informasi maupun logistik, yang berpotensi menekan pemerintahan Ayatollah Ali Khamenei dari dalam.
Baca Juga: Israel Gempur PLTN Bushehr, Serangan Terbesar ke Fasilitas Nuklir Iran
Operasi semacam ini disebut sebagai "operasi non-konvensional" yang menyasar destabilisasi politik internal Iran.
Sementara itu, Iran menuduh Israel dan AS berada di balik upaya sabotase dan terorisme di dalam negeri. Sebuah pernyataan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyebut, “Upaya mereka untuk menjatuhkan sistem Islam kami tidak akan berhasil.
Rakyat Iran akan tetap bersatu menghadapi agresi asing.”
Pakar geopolitik Timur Tengah dari Universitas Teheran, Dr. Morteza Alavi, menilai bahwa ketegangan ini bukan hanya persoalan ideologi, tetapi merupakan upaya untuk mengatur ulang kekuatan hegemonik di kawasan.
“Israel berkepentingan agar Iran melemah dari dalam, karena Teheran merupakan tulang punggung perlawanan di Suriah, Lebanon (Hezbollah), Irak, hingga Yaman (Houthi),” ujarnya.
Artikel Terkait
Transformasi Desa Lewat Koperasi: Target Ambisius Kopdes 2025
Rembug Inpres 8/2025: Menko PM Targetkan Kemiskinan Ekstrem Nol Persen di 2026
Kopdes Merah Putih, Mesin Baru Penggerak Ekonomi Desa yang Tak Menggeser Usaha Warga
Solusi Ekonomi Desa: Rantai Pendek, Harga Bersahabat
Relokasi Geologis Mendesak: Pemerintah Pastikan Zona Aman Pascagerakan Tanah Purwakarta
Cold Storage Merah Putih: Solusi Nelayan Lawan Harga Tekan dan Ikan Busuk
7,3 Juta Peserta PBI JKN Dinonaktifkan, Kuota Nasional Tetap Aman
Pendidikan Jadi Garda Terdepan Atasi Kemiskinan Ekstrem, Menko PMT Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
China Evakuasi Warganya dari Iran dan Israel, Peringatkan Kemacetan di Perbatasan
Bertemu Putin, Prabowo Bahas Langkah Awal Indonesia Miliki Energi Nuklir