TEL AVIV/JERUSALEM/DUBAI,METROSELEBES.COM-Israel mengklaim telah melancarkan serangan udara terhadap satu-satunya pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang beroperasi di Iran, dalam eskalasi terbaru konflik yang semakin memanas antara kedua negara musuh bebuyutan itu.
Baca Juga: Israel Gempur Situs Nuklir Iran, Termasuk Fasilitas di Bushehr yang Didukung Rusia
Militer Israel pada Kamis menyatakan bahwa mereka telah menggempur sejumlah situs nuklir utama milik Iran, termasuk fasilitas di Bushehr, Isfahan, dan Natanz. Namun, serangan terhadap PLTN Bushehr yang terletak di pesisir Teluk Persia dan dekat dengan negara-negara Arab tetangga Iran dinilai sebagai langkah yang sangat berisiko dan berpotensi memicu reaksi global.
Bushehr merupakan satu-satunya reaktor nuklir Iran yang masih beroperasi. Fasilitas ini menggunakan bahan bakar dari Rusia, yang dikembalikan ke Moskow setelah digunakan sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi risiko proliferasi nuklir. Reaktor ini juga mempekerjakan teknisi Rusia, menambah sensitivitas geopolitik atas serangan tersebut.
Baca Juga: Guncangan Politik di Thailand: Bocoran Telepon Picu Krisis Koalisi
Sementara itu, pada malam yang sama, rudal-rudal Iran dilaporkan menghantam sebuah rumah sakit di Israel. Serangan ini meningkatkan kekhawatiran internasional akan potensi konflik regional yang lebih luas. Presiden Amerika Serikat Donald Trump hingga kini belum memberikan kejelasan apakah Washington akan secara langsung mendukung serangan udara Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa negaranya akan melanjutkan operasi militer hingga program nuklir Iran "dihancurkan sepenuhnya". Dalam pernyataan kerasnya, ia menyebut para penguasa Iran sebagai "tirani" yang harus membayar "harga penuh" atas ambisi nuklir mereka.
Baca Juga: Bocoran Telepon Rahasia Bongkar Retaknya Hubungan Thailand-Kamboja
Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menambahkan bahwa pasukan pertahanan telah diperintahkan untuk meningkatkan serangan terhadap target-target strategis di Tehran. Tujuannya, kata dia, adalah untuk menghapus ancaman terhadap Israel dan mengguncang stabilitas "rezim Ayatollah".
Situasi yang berkembang ini memicu kekhawatiran luas atas kemungkinan terjadinya perang terbuka di kawasan, serta potensi gangguan terhadap kestabilan energi dan ekonomi global. Negara-negara di kawasan Teluk, Rusia, dan pihak internasional lainnya disebut sedang memantau situasi dengan sangat cermat.
Artikel Terkait
Bocoran Telepon Rahasia Bongkar Retaknya Hubungan Thailand-Kamboja
Tamanmartani Tumbuh Jadi Role Model Koperasi Berbasis Potensi Lokal
Menteri Sosial Gus Ipul Bongkar 1,3 Juta Rekening Bansos Gagal Salur, Ini Penyebabnya
Belanda dan Indonesia Satukan Teknologi dan Inovasi, Dorong Lompatan Besar di Sektor Pertanian Berkelanjutan
BSU 2025 Kembali Cair! Tenaga Kerja Siap Terima Rp600 Ribu Sekaligus
Guncangan Politik di Thailand: Bocoran Telepon Picu Krisis Koalisi
Revolusi Tenaga Kerja Desa: Kampung Halaman Kini Jadi Lumbung Peluang
Kopdes Merah Putih Jadi Prioritas Nasional, Menkop dan PKDI Bahas Akselerasi Ekonomi Desa
Israel Gempur Situs Nuklir Iran, Termasuk Fasilitas di Bushehr yang Didukung Rusia
Distribusi Pupuk Subsidi 2025 Dipercepat, Petani Diuntungkan Lewat Skema Baru