FRANKFURT,METROSELEBES.COM-Bank Sentral Eropa (ECB) kembali memangkas suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin, menandai pemangkasan kedelapan dalam setahun terakhir. Langkah ini mencerminkan keyakinan ECB bahwa inflasi telah terkendali, meskipun prospek pertumbuhan ekonomi kawasan euro masih dibayangi ketidakpastian global, termasuk potensi perang dagang dengan Amerika Serikat. Seperti dikutip dari Reuters pada Kamis (05/06/2025).
Baca Juga: Ukraina Kecam Eropa: Dana Beku Rusia Malah Dibagikan ke Investor Barat, Bukan untuk Korban Perang
Pemangkasan ini membawa suku bunga utama ECB turun dari 2,25% menjadi 2,0%, yang berada di tengah-tengah kisaran yang dinilai "netral" oleh bank sentral – tidak terlalu menekan maupun mendorong pertumbuhan ekonomi.
Pasar keuangan merespons dengan tenang. Nilai tukar euro nyaris tidak berubah di kisaran $1,1426, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jerman bertenor 2 tahun turun 2 basis poin menjadi 1,77%. Indeks saham STOXX 600 Eropa menguat tipis sebesar 0,3%, sementara saham sektor perbankan memangkas sebagian kerugian sebelumnya.
Pandangan Analis: Sinyal Dovish dan Ketidakpastian Eksternal. Kallum Pickering, Kepala Ekonom di Peel Hunt, menilai pemangkasan ini mencerminkan sikap ECB yang menganggap tekanan eksternal seperti konflik dagang akan berdampak disinflasioner bagi zona euro. “Ini memberi ruang bagi ECB untuk melonggarkan kebijakan lebih agresif jika risiko perlambatan pertumbuhan benar-benar terwujud,” ujarnya.
Baca Juga: India-AS Genjot Finalisasi Kesepakatan Tarif Interim Jelang Batas Waktu Trump
Sementara itu, Simon Dangoor dari Goldman Sachs Asset Management memperkirakan ECB akan memangkas suku bunga dua kali lagi hingga akhir tahun, menjadi sekitar 1,5%, dengan tetap mewaspadai faktor fiskal dan aliran dana pensiun sebagai potensi peluang di pasar obligasi.
Francesco Pesole, analis FX dari ING, menilai penurunan proyeksi inflasi ECB untuk 2025 dan 2026 memperkuat sikap dovish, meskipun tidak ada revisi signifikan pada inflasi inti. "Euro bisa saja melemah lebih jauh jika bukan karena data inflasi yang sudah mengecewakan lebih awal pekan ini,” jelasnya.
Kemungkinan Jeda di Juli, Tapi Tekanan Masih Ada. Irene Lauro dari Schroders memperingatkan bahwa meskipun penurunan suku bunga kali ini telah diperkirakan pasar, peluang pemangkasan lanjutan dalam waktu dekat belum tentu besar. “Pasar tenaga kerja masih ketat, permintaan domestik meningkat, dan kredit mulai pulih,” katanya. “ECB kini memasuki fase di mana kesabaran lebih dibutuhkan dibanding urgensi.”
Baca Juga: Pengadilan Inggris Tolak Banding Taipan Rusia Ziyavudin Magomedov dalam Kasus Transneft
Artikel Terkait
Logam Tanah Jarang: Pembatasan Ekspor China Lumpuhkan Industri Otomotif Global
Produksi Suzuki Swift Terhenti Akibat Pembatasan Ekspor Rare Earth oleh China
Revolusi Kepala Sekolah: Pemerintah Pastikan Kualitas dan Pemerataan Melalui Permendikdasmen 2025
Indonesia dan Prancis Teken Deklarasi Kolaborasi Pertanian Masa Depan
Pengadilan Inggris Tolak Banding Taipan Rusia Ziyavudin Magomedov dalam Kasus Transneft
10 Desa Tangguh Jadi Garda Terdepan Perlindungan Pekerja Migran
UMKM Bangkit, Rakyat Mandiri: Perintis Berdaya Jadi Motor Baru Pengentasan Kemiskinan
Panen Prestasi di Perbatasan: Indonesia Ekspor Jagung Perdana ke Malaysia dari Bengkayang
India-AS Genjot Finalisasi Kesepakatan Tarif Interim Jelang Batas Waktu Trump
Ukraina Kecam Eropa: Dana Beku Rusia Malah Dibagikan ke Investor Barat, Bukan untuk Korban Perang