India, yang baru saja meraih kesepakatan dagang dengan Inggris dan tengah menjalani perundingan dengan Uni Eropa, dikabarkan masih menolak sejumlah permintaan AS untuk membuka pasar pertanian dan produk susu, dengan alasan potensi penolakan dari petani domestik.
Baca Juga: Living Plaza Palu Resmi Dibuka, Wali Kota Hadianto: Ini Tonggak Sejarah Baru
“Kami siap menawarkan kesepakatan yang lebih baik dibandingkan dengan Inggris, termasuk rata-rata tarif impor turun hingga 10% agar sejalan dengan tarif dasar AS, serta pemberlakuan kuota dan tarif hampir nol untuk akses pasar dan penguatan rantai pasok,” ungkap pejabat ketiga.
Washington telah lama mengkritisi tingginya tarif impor pertanian India yang rata-rata mencapai 39%, bahkan pada beberapa produk mencapai 45-50%. AS juga mendorong agar India mengizinkan impor jagung untuk kebutuhan produksi etanol.
Baca Juga: Panen Prestasi di Perbatasan: Indonesia Ekspor Jagung Perdana ke Malaysia dari Bengkayang
Perdagangan bilateral antara India dan AS mencapai USD 129 miliar pada tahun 2024, dengan India mencatat surplus sebesar USD 45,7 miliar — menjadikan AS sebagai mitra dagang terbesar India.
Artikel Terkait
Living Plaza Palu Resmi Dibuka, Wali Kota Hadianto: Ini Tonggak Sejarah Baru
Jelang Idul Adha, Satgas Madago Raya Intensif Sisir Jalur Pegunungan Poso
Logam Tanah Jarang: Pembatasan Ekspor China Lumpuhkan Industri Otomotif Global
Produksi Suzuki Swift Terhenti Akibat Pembatasan Ekspor Rare Earth oleh China
Revolusi Kepala Sekolah: Pemerintah Pastikan Kualitas dan Pemerataan Melalui Permendikdasmen 2025
Indonesia dan Prancis Teken Deklarasi Kolaborasi Pertanian Masa Depan
Pengadilan Inggris Tolak Banding Taipan Rusia Ziyavudin Magomedov dalam Kasus Transneft
10 Desa Tangguh Jadi Garda Terdepan Perlindungan Pekerja Migran
UMKM Bangkit, Rakyat Mandiri: Perintis Berdaya Jadi Motor Baru Pengentasan Kemiskinan
Panen Prestasi di Perbatasan: Indonesia Ekspor Jagung Perdana ke Malaysia dari Bengkayang