China Kirim Bomber H-6 ke Pulau Sengketa, Unjuk Kekuatan di Laut China Selatan

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Kamis, 29 Mei 2025 | 02:07 WIB
Pesawat peringatan dini KJ-500 bersama pesawat angkut Y-20 diparkir di landasan sebuah pangkalan udara di Pulau Woody, yang terletak di kepulauan Paracel yang disengketakan, yang dikenal di Tiongkok sebagai Xisha.
Pesawat peringatan dini KJ-500 bersama pesawat angkut Y-20 diparkir di landasan sebuah pangkalan udara di Pulau Woody, yang terletak di kepulauan Paracel yang disengketakan, yang dikenal di Tiongkok sebagai Xisha.

Meski didasarkan pada desain era Soviet tahun 1950-an, H-6 tetap menjadi bomber paling canggih yang dimiliki China. Pesawat ini telah dimodernisasi dengan mesin baru, sistem avionik canggih, dan persenjataan mutakhir termasuk rudal jelajah anti-kapal dan rudal balistik berhulu ledak nuklir.

 

Menurut International Institute of Strategic Studies (IISS) yang berbasis di London, Komando Teater Selatan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China mengoperasikan dua resimen H-6. Meski demikian, para analis meyakini penempatan bomber ini di Pulau Woody bersifat sementara.

Baca Juga: Kejati Sulteng Gelar Pra Musrenbang 2025, Soroti Efisiensi Anggaran dan Penguatan Kinerja Satker

"Rotasi aset strategis seperti H-6 ke pangkalan luar memberikan mekanisme perlindungan bagi PLA, sekaligus menjadi pesan strategis bagi lawan-lawan regional," ujar Ben Lewis, pendiri platform intelijen sumber terbuka PLATracker.

 

Sengketa yang Terus Memanas

 

Keberadaan China di Kepulauan Paracel ditentang keras oleh Vietnam, yang juga mengklaim wilayah tersebut. Sampai berita ini diturunkan, baik Kementerian Pertahanan China, Dewan Keamanan Nasional Filipina, maupun Kementerian Luar Negeri Vietnam belum memberikan komentar resmi.

Baca Juga: Ledakan Dahsyat Guncang Gaomi: Pabrik Kimia Meledak, Warga Trauma

China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan, termasuk zona ekonomi eksklusif milik negara-negara Asia Tenggara seperti Brunei, Malaysia, Filipina, Indonesia, Taiwan, dan Vietnam. Namun, klaim tersebut telah dibatalkan oleh putusan pengadilan arbitrase internasional pada 2016, yang menyatakan bahwa klaim maritim China tidak memiliki dasar hukum. China menolak keputusan tersebut.

 

Sementara itu, Amerika Serikat terus memperkuat kehadirannya di kawasan melalui pengerahan kekuatan militer, termasuk sayap tempur di Jepang dan Guam, serta kapal induk bertenaga nuklir.

Baca Juga: Brimob Sulteng Bersihkan Sekolah di Desa Wombo Pascabanjir, Layanan Madago Respon Siaga 24 Jam

Kehadiran bomber H-6 di wilayah sengketa ini diyakini akan menambah ketegangan di kawasan dan menjadi sorotan utama dalam forum Shangri-La Dialogue yang akan datang.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X