GAZA,METROSELEBES.C0M-Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza semakin memburuk meski Israel mulai melonggarkan blokade yang telah berlangsung selama 11 minggu. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa hanya "setetes" bantuan yang berhasil masuk, sementara penjarahan dan serangan udara terus menghambat distribusi bantuan bagi dua juta warga Gaza yang terdampak perang.
Informasi tersebut dikutip melalui reuters.com pada Sabtu, (24/05/2025).
Baca Juga: Setelah Dua Tahun Ditekan, Akio Toyoda Kini Didukung untuk Tetap Pimpin Toyota
Menurut pejabat Hamas, serangan udara Israel pada Kamis menewaskan sedikitnya enam anggota tim pengamanan yang bertugas melindungi truk-truk bantuan dari penjarahan di wilayah Khan Younis. Di sisi lain, militer Israel belum memberikan tanggapan resmi, namun sebelumnya menyebut bahwa kelompok bersenjata Palestina sering disamarkan sebagai “penjaga” oleh Hamas.
Sementara itu, militer Israel mengklaim telah mengizinkan masuknya 107 truk berisi tepung, makanan, dan obat-obatan melalui perbatasan Kerem Shalom pada Kamis, menjadikan total 305 truk sejak pelonggaran dimulai awal pekan ini. Namun kenyataannya, hanya 119 truk yang benar-benar berhasil masuk dan mencapai wilayah Gaza, menurut jaringan organisasi bantuan Palestina.
Baca Juga: Apakah Komunitas Yahudi Masih Aman di Jantung Ibu Kota AS?
Pendistribusian bantuan sangat terhambat oleh aksi penjarahan, sebagian besar dilakukan oleh kelompok pria bersenjata. "Mereka mencuri makanan yang seharusnya diberikan kepada anak-anak dan keluarga yang kelaparan," ungkap jaringan bantuan tersebut dalam sebuah pernyataan. Mereka juga mengecam serangan terhadap tim pengamanan yang menjaga pengiriman bantuan.
Program Pangan Dunia (WFP) melaporkan bahwa 15 truk yang membawa tepung untuk roti-rakyat telah dijarah. "Kelaparan, keputusasaan, dan kecemasan tentang keberlanjutan bantuan memperburuk situasi keamanan," kata WFP dalam pernyataan resminya.
Baca Juga: Hubungan Erat Harvard dengan Tiongkok Kini Jadi Sorotan Politik di Bawah Pemerintahan Trump
Israel memberlakukan blokade ketat sejak awal Maret, menuduh Hamas menyita bantuan yang ditujukan bagi warga sipil. Namun, Hamas membantah tuduhan tersebut dan menyatakan sejumlah pejuangnya telah gugur saat melindungi pengiriman bantuan dari perampokan.
Di tengah tekanan internasional yang meningkat, Israel mengumumkan rencana sistem distribusi bantuan baru yang didukung Amerika Serikat dan dijalankan oleh kontraktor swasta. Sistem ini akan beroperasi dari empat pusat distribusi di Gaza selatan. Namun, banyak rincian yang belum jelas, dan PBB menyatakan tidak akan bekerja sama dengan sistem tersebut karena dianggap mempolitisasi proses distribusi.