METROSELEBES.COM-Nama Witan Sulaeman pernah menghiasi daftar pemain utama Timnas Indonesia, bahkan menjadi andalan di berbagai turnamen penting. Namun, belakangan, absennya Witan dari skuad Garuda menjadi sorotan. Di balik pergeseran karier ini, ada kisah yang jauh lebih dalam dari sekadar urusan taktik dan performa.
Baca Juga: Viktor Gyökeres: Bukti bahwa Kesempatan Kedua Bisa Mengubah Segalanya
Sejak bergabung dengan Persija Jakarta, Witan mengalami penurunan jam bermain. Di bawah arahan pelatih Carlos Pena, ia jarang mendapat kesempatan tampil penuh. Padahal, ia datang dengan status bintang dari Eropa. Ketika Patrick Kluivert menggantikan Shin Tae-yong sebagai pelatih Timnas, daftar pemain juga mengalami perombakan. Sayangnya, nama Witan tidak termasuk di dalamnya.
“Karena saya tidak main banyak di klub, otomatis pelatih Timnas juga tidak bisa menilai performa saya secara utuh,” ujar Witan dalam sebuah wawancara.
Meski banyak yang menyesalkan absennya Witan dari Timnas, Witan justru menjalani fase kehidupan yang berbeda. Pada tahun 2024, ia dan keluarganya menunaikan ibadah haji. Keputusan ini memperlihatkan sisi spiritual dari Witan yang selama ini jarang tersorot. Ia membuktikan bahwa kehidupan sebagai pesepak bola tidak hanya soal trofi dan panggilan timnas, tapi juga tanggung jawab kepada keluarga dan Tuhan.
Di balik ketidakhadirannya di lapangan hijau, Witan tetap aktif di media sosial. Ia sering membagikan momen bersama istri dan anak-anaknya, memperlihatkan sisi dirinya sebagai ayah yang penuh cinta. Banyak penggemar memuji Witan sebagai sosok inspiratif—tidak hanya karena skill-nya di lapangan, tetapi juga karena kesederhanaan dan nilai-nilai hidup yang ia pegang teguh.