MetroSelebes - Sebuah serangan tiba-tiba dilakukan oleh kelompok militan Hamas dari Gaza ke wilayah Israel pada pagi hari Sabtu, 7 Oktober 2023.
Serangan ini merupakan salah satu eskalasi paling serius dalam konflik antara Israel dan Palestina dalam beberapa tahun terakhir.
Lebih dari 5.000 roket ditembakkan melintasi perbatasan sebelum anggota Hamas merangsek masuk ke wilayah Israel setelah serentetan serangan roket tersebut.
Baca Juga: Menkopolhukam Mahfud MD: Peserta Pemilu 2024 Harus Hindari Kampanye Negatif-Hitam
Sebagai respons, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa negaranya sedang terlibat dalam pertempuran dengan Hamas.
Hamas, sebuah kelompok militan Palestina, berbasis di Jalur Gaza, didirikan pada tahun 1987.
Hamas memandang dirinya sebagai oposisi terhadap pendekatan sekuler yang diambil oleh Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), yang mewakili otoritas nasional Palestina dalam konflik Israel-Palestina.
Baca Juga: TAHUKAH KAMU Konflik Palestina – Israel Berawal Dari Surat Singkat 67 Kata Yang Mengubah Dunia
Kelompok ini pertama kali muncul dalam konteks perlawanan Palestina awal dan mendapatkan dukungan dari pihak Syiah Iran.
Hamas menganut ideologi Islam Ikhwanul Muslimin, yang didirikan di Mesir pada tahun 1920-an.
Hamas memiliki sayap militer yang dikenal sebagai Brigade Izz ad-Din al-Qassam, yang telah melancarkan berbagai serangan anti-Israel di wilayah Israel dan Palestina sejak tahun 1990-an.
Serangan-serangan ini mencakup serangan bom besar terhadap target sipil Israel, serangan dengan senjata ringan, peledak rakitan di pinggir jalan, dan serangan roket.
Hamas telah mengendalikan Jalur Gaza sejak tahun 2007 setelah memenangkan perang saudara melawan kelompok militan Fatah, mengakhiri kekuasaan Fatah di wilayah Palestina.