Sebagai contoh, anak perusahaan AI Bitmain, Sophgo, baru-baru ini masuk daftar hitam pemerintah AS atas dasar kekhawatiran keamanan.
Dominasi Tiongkok Terancam?
Sebelum pemerintah Tiongkok melarang aktivitas kripto pada 2021 karena alasan stabilitas keuangan, negara itu mendominasi seluruh rantai nilai Bitcoin, mulai dari produksi mesin, penambangan, hingga perdagangan. Namun, larangan itu mendorong pelaku industri keluar negeri, meski produsen mesin tambang seperti Bitmain, Canaan, dan MicroBT tetap bertahan berkat keunggulan teknologi awal mereka.
Baca Juga: Empat Pulau Strategis Masuk Aceh, Prabowo Ambil Keputusan Bersejarah di 2025
Canaan bahkan telah memindahkan kantor pusatnya ke Singapura dan menjadikan pasar AS sebagai penyumbang 40% pendapatan tahun lalu. “Tujuan utama kami adalah menekan biaya produksi dan distribusi untuk kami dan pelanggan kami,” kata Wang.
Namun tantangan masih membayangi. AS tahun ini menetapkan tarif dasar 10% untuk banyak barang impor, ditambah tarif tambahan 20% untuk barang-barang dari Tiongkok. Trump juga mengancam akan menaikkan tarif untuk produk dari Asia Tenggara — wilayah yang digunakan produsen Tiongkok sebagai basis perakitan alternatif.
Isu Strategis Nasional
Trump, yang mencitrakan dirinya sebagai “presiden kripto”, berjanji akan mendorong adopsi mata uang digital di AS. Putranya, Eric Trump, bahkan bekerja sama dengan perusahaan energi dan teknologi Hut 8 untuk meluncurkan perusahaan tambang American Bitcoin yang bertujuan membentuk cadangan strategis Bitcoin nasional.
Baca Juga: Dari Warga untuk Warga: Partisipasi Kolektif Jadi Fondasi Kredibilitas Kopdes Merah Putih
Namun kebijakan pro-kripto itu tak bisa mengabaikan dominasi infrastruktur Tiongkok. “Ketergantungan pada perangkat keras Tiongkok menciptakan titik lemah bagi penambang AS,” kata pengacara kripto AS John Deaton.