WASHINGTON,METROSELEBES.COM-Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengumumkan telah menjerat dua warga negara China dengan tuduhan bertindak sebagai agen intelijen pemerintah Tiongkok. Keduanya dituduh mencoba merekrut anggota militer Angkatan Laut AS (U.S. Navy) untuk menjadi mata-mata bagi Beijing, serta mengumpulkan informasi rahasia terkait pangkalan militer Amerika. Seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (01/07/2025).
Dua tersangka tersebut adalah Yuance Chen (38), penduduk tetap sah yang tinggal di Happy Valley, Oregon, dan Liren “Ryan” Lai (39), yang baru tiba dari Tiongkok ke Houston pada April lalu menggunakan visa turis. Keduanya ditangkap pada Jumat lalu dan telah menjalani sidang perdana di pengadilan federal di Houston dan Portland, Oregon, pada Senin (1/7).
Menurut keterangan DOJ, pada tahun 2022, Chen dan Lai diduga memfasilitasi pembayaran dengan metode “dead drop” senilai sedikitnya $10.000 yang disembunyikan dalam loker di sebuah fasilitas rekreasi di California Utara. Uang tersebut diberikan sebagai imbalan atas informasi keamanan nasional AS yang sebelumnya telah dikirim ke intelijen China.
Meski DOJ tidak mengungkap secara rinci siapa sumber informasi tersebut atau siapa anggota militer yang menjadi target perekrutan, pihak berwenang menegaskan bahwa kedua tersangka terus menjalankan operasi atas nama Kementerian Keamanan Negara China (Ministry of State Security/MSS) setelah insiden tahun 2022.
"Mereka terus mencoba mengidentifikasi calon agen di dalam jajaran Angkatan Laut AS untuk direkrut oleh MSS," demikian pernyataan DOJ.
Direktur FBI, Kash Patel, dalam pernyataan tertulis mengatakan bahwa Partai Komunis China mengira mereka bisa menjalankan operasi mata-mata di tanah AS tanpa terdeteksi. "Mereka menggunakan teknik mata-mata klasik seperti dead drop untuk membayar informan mereka. Tapi kami berhasil membongkar jaringan ini," katanya.
Baca Juga: Suzuki Fronx Tampil Elegan, Tapi Ini Deretan Kekurangannya yang Perlu Diketahui
Sementara itu, dalam pernyataannya kepada Reuters, juru bicara Kedutaan Besar China, Liu Pengyu, menyatakan tidak mengetahui kasus tersebut secara spesifik. Namun ia menilai tuduhan tersebut sebagai "dugaan dan spekulasi belaka", serta menuding AS bersikap hipokrit dalam operasi intelijennya di seluruh dunia.
Artikel Terkait
Naik Pangkat, Naik Tanggung Jawab: 35 Personel Polres Bangkep Diingatkan Arti Sebuah Pangkat
Wali Kota Palu Dukung Kemandirian Difabel, Siapkan Bantuan Modal Hingga Ruang Usaha
Wali Kota Palu dan Rektor UIN Datokarama Bahas Kolaborasi Pendidikan dan Pengembangan UMKM
Sunatan Massal Berujung Luka Serius, Ibu Korban Tuntut Pertanggungjawaban Tenaga Medis Diduga P3K
HUT Bhayangkara ke-79, Presiden Prabowo Minta Polisi Turun ke Rakyat dan Rasakan Penderitaan Warga
Suzuki Fronx Tampil Elegan, Tapi Ini Deretan Kekurangannya yang Perlu Diketahui
Hari Bhayangkara ke-79, Kapolda Sulteng Umrohkan 6 Penggali Kubur dan Pengurus Jenazah
Penjualan Mobil di AS Naik pada Kuartal Kedua, Tapi Ancaman Tarif dan Harga Tinggi Bayangi Paruh Akhir Tahun
Ferrari Amalfi Resmi Diluncurkan: Coupe Bertenaga V8 Ini Siap Jadi Penerus Roma Sebelum Era Mobil Listrik Dimulai
Zakir Naik Safari Dakwah di Indonesia: Guncang Surakarta hingga Jakarta dengan 12 Kamera Mewah, ini jadwalnya