Selat Hormuz: Titik Panas Geopolitik yang Menentukan Masa Depan Energi Dunia

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Senin, 23 Juni 2025 | 18:57 WIB
Kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz, 21 Desember 2018. Source FOTO: REUTERS
Kapal tanker minyak melewati Selat Hormuz, 21 Desember 2018. Source FOTO: REUTERS

TEHERAN,METROSELEBES.COM-Ketegangan kembali memuncak di kawasan Teluk setelah parlemen Iran dilaporkan menyetujui kemungkinan penutupan Selat Hormuz sebagai respons terhadap serangan udara Amerika Serikat ke sejumlah fasilitas nuklir Teheran. Televisi pemerintah Iran menyatakan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan Dewan Keamanan Tertinggi Iran.

Baca Juga: Musim Kemarau Lebih Pendek, Produksi Beras RI Diprediksi Naik Tajam pada 2025

Meskipun ancaman penutupan Selat Hormuz telah berulang kali dilontarkan oleh Iran selama bertahun-tahun, langkah tersebut belum pernah benar-benar direalisasikan. Namun, dampaknya dipastikan akan signifikan: perdagangan minyak global akan terganggu dan harga energi dunia bisa melonjak drastis.

 

Apa Itu Selat Hormuz?

 

Selat Hormuz merupakan jalur air strategis yang memisahkan Oman dan Iran, menghubungkan Teluk Persia di utara dengan Teluk Oman dan Laut Arab di selatan. Pada titik tersempitnya, lebar selat ini hanya 33 kilometer, sementara jalur pelayaran komersial aktif hanya selebar 3 kilometer untuk setiap arah.

Baca Juga: Rudal Khorramshahr-4 Menggelegar: Iran Kirim Peringatan Maut ke Israel dan AS

Kenapa Selat Ini Sangat Penting?

 

Sekitar 20 persen dari total konsumsi minyak dunia setiap harinya mengalir melalui Selat Hormuz. Berdasarkan data perusahaan analisis energi Vortexa, antara awal 2022 hingga bulan lalu, sebanyak 17,8 hingga 20,8 juta barel minyak mentah, kondensat, dan bahan bakar melintasi selat ini setiap hari.

 

Negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sebagian besar mengekspor minyak mentah mereka melalui jalur ini, terutama ke pasar Asia. Meski demikian, Arab Saudi dan UEA terus berupaya mencari jalur alternatif guna mengurangi ketergantungan pada Hormuz. Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), sekitar 2,6 juta barel per hari dari kapasitas pipa alternatif yang tersedia dapat digunakan untuk melewati Hormuz.

Baca Juga: Langkah Nyata Sekolah Rakyat: Mimpi Anak Bangsa Diangkat dari Pinggiran

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X