Saat ditanya apakah Trump akan meminta otorisasi dari Kongres sebelum melancarkan serangan ke Iran, Leavitt menolak memberikan jawaban pasti. Hal ini memicu kekhawatiran di kalangan Demokrat setelah laporan dari CBS menyebut Trump mungkin akan melewati wewenang Kongres yang secara konstitusional memiliki hak untuk menyatakan perang.
Leavitt juga mengklaim bahwa Iran saat ini “sangat dekat” untuk memiliki senjata nuklir — hanya tinggal “beberapa minggu lagi”, menurut penilaian pejabat intelijen Gedung Putih. Pernyataan itu bertolak belakang dengan kesaksian Kepala Intelijen Nasional Trump sendiri, Tulsi Gabbard, pada Maret lalu, yang mengatakan bahwa Iran belum menunjukkan tanda-tanda aktif membangun hulu ledak nuklir.
Baca Juga: Prabowo Buka Jakarta Fair 2025: Inovasi dan Pemberdayaan Jadi Mesin Bangkitnya Ekonomi Rakyat
Menanggapi pernyataan Gabbard, Trump menyatakan: “Saya tidak peduli apa yang dia katakan. Menurut saya, mereka sudah sangat dekat memilikinya.”
Sementara itu, mantan penasihat senior Trump, Steve Bannon, mengimbau kehati-hatian agar AS tidak buru-buru ikut serta dalam upaya Israel menghancurkan program nuklir Iran.
Konflik antara Israel dan Iran terus memanas. Pada Kamis, Israel kembali membombardir situs-situs nuklir Iran, termasuk menargetkan fasilitas di Bushehr, sementara Iran membalas dengan serangan rudal dan drone yang mengenai sebuah rumah sakit di Israel.
Leavitt menambahkan bahwa Presiden Trump telah mendapatkan laporan lengkap mengenai operasi militer Israel terbaru dan terus berkomunikasi erat dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. “Iran saat ini berada dalam posisi yang sangat rentan. Jika mereka tidak menghentikan upaya mendapatkan senjata nuklir, mereka akan menghadapi konsekuensi yang sangat serius,” tegasnya.
Baca Juga: Dibalik Gemerlap Nikel Morowali: Pelanggaran Lingkungan dan Desakan Bentuk Otorita Baru
Tiga diplomat yang diwawancarai Reuters mengonfirmasi bahwa utusan khusus Trump, Steve Witkoff, telah melakukan beberapa kali komunikasi via telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi sejak gelombang serangan Israel dimulai pekan lalu — menandakan masih adanya saluran komunikasi meski ketegangan terus meningkat.
Artikel Terkait
Pendidikan Jadi Garda Terdepan Atasi Kemiskinan Ekstrem, Menko PMT Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
China Evakuasi Warganya dari Iran dan Israel, Peringatkan Kemacetan di Perbatasan
Bertemu Putin, Prabowo Bahas Langkah Awal Indonesia Miliki Energi Nuklir
Benarkah Israel Targetkan Pergantian Rezim Iran? Ini Motif dan Manuvernya di Timur Tengah
Keseimbangan Tak Setara: Israel Vs Iran dalam Kekuatan Militer Modern
Dibalik Gemerlap Nikel Morowali: Pelanggaran Lingkungan dan Desakan Bentuk Otorita Baru
80 Ribu Koperasi Merah Putih Siap Dibangun, Proyek Percontohan Dimulai Akhir Juli
75 Tahun Diplomasi Erat, Indonesia–Rusia Sepakati Langkah Strategis Baru di Bidang Investasi dan Pendidikan
Prabowo Buka Jakarta Fair 2025: Inovasi dan Pemberdayaan Jadi Mesin Bangkitnya Ekonomi Rakyat
Di Tengah Serangan Israel, Oposisi Iran Bingung Menentukan Arah