ST. PETERSBURG,METROSELEBES.COM-Presiden Indonesia Prabowo Subianto bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah kunjungan kenegaraan di Kota Saint Petersburg pada Kamis (19/6), menandai langkah penting dalam upaya memperkuat hubungan bilateral kedua negara. Pertemuan ini digelar di Istana Konstantin, di tengah upaya Rusia memperluas jalinan kerja sama dengan negara-negara Global South di tengah isolasi Barat akibat perang di Ukraina. Dikutip dari Reuters pada Kamis (19/06/2025).
Baca Juga: China Evakuasi Warganya dari Iran dan Israel, Peringatkan Kemacetan di Perbatasan
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Putin menyambut hangat keanggotaan penuh Indonesia dalam BRICS—kelompok negara berkembang berpengaruh yang mencakup Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan. Ia menyatakan keyakinannya bahwa Indonesia akan memberikan kontribusi besar bagi blok tersebut. Prabowo pun mengucapkan terima kasih atas dukungan Rusia dan menyebut hubungan Jakarta-Moskow tengah berada dalam jalur yang sangat positif.
Kunjungan ini menandai langkah lanjutan dari pembicaraan strategis antara Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dan Menlu Indonesia Sugiono di Moskow awal pekan ini, yang membahas kemungkinan pembentukan kemitraan strategis. Rusia telah menawarkan kerja sama lebih lanjut di sektor militer, keamanan, perdagangan, dan energi nuklir.
Prabowo sebelumnya telah berkunjung ke Rusia pada Agustus 2024 saat masih menjabat Menteri Pertahanan dan Presiden terpilih. Saat itu, ia menyebut Rusia sebagai “sahabat besar” dan menegaskan keinginannya untuk mempererat kerja sama di bidang pertahanan, energi, dan pendidikan.
Baca Juga: Pendidikan Jadi Garda Terdepan Atasi Kemiskinan Ekstrem, Menko PMT Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
Salah satu poin utama dalam pembahasan bilateral kali ini adalah rencana Indonesia membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pertamanya dengan kapasitas 500 megawatt pada tahun 2032. Beberapa pengembang yang menunjukkan minat termasuk Rosatom (Rusia), CNNC (Tiongkok), dan NuScale (Amerika Serikat). Pemerintah Indonesia melihat energi nuklir sebagai solusi untuk memenuhi lonjakan permintaan energi nasional sambil menekan emisi karbon, mengingat ketergantungan saat ini masih dominan pada batu bara.
Indonesia, sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, juga sedang mengejar peningkatan kapasitas listrik dengan tetap mempertahankan kebijakan luar negeri bebas aktif. Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia tidak akan bergabung dalam blok militer manapun dan tetap terbuka untuk menjalin hubungan baik dengan negara mana pun, termasuk Rusia maupun Amerika Serikat.
Baca Juga: Relokasi Geologis Mendesak: Pemerintah Pastikan Zona Aman Pascagerakan Tanah Purwakarta
Sementara Tiongkok tetap menjadi mitra dagang terbesar Indonesia, pemerintahan Prabowo juga membuka peluang kerja sama ekonomi lebih besar dengan Amerika Serikat melalui berbagai insentif perdagangan.
Artikel Terkait
Ekonomi Desa Berputar, Warga Sejahtera Lewat Koperasi
Transformasi Desa Lewat Koperasi: Target Ambisius Kopdes 2025
Rembug Inpres 8/2025: Menko PM Targetkan Kemiskinan Ekstrem Nol Persen di 2026
Kopdes Merah Putih, Mesin Baru Penggerak Ekonomi Desa yang Tak Menggeser Usaha Warga
Solusi Ekonomi Desa: Rantai Pendek, Harga Bersahabat
Relokasi Geologis Mendesak: Pemerintah Pastikan Zona Aman Pascagerakan Tanah Purwakarta
Cold Storage Merah Putih: Solusi Nelayan Lawan Harga Tekan dan Ikan Busuk
7,3 Juta Peserta PBI JKN Dinonaktifkan, Kuota Nasional Tetap Aman
Pendidikan Jadi Garda Terdepan Atasi Kemiskinan Ekstrem, Menko PMT Dorong Kolaborasi Lintas Sektor
China Evakuasi Warganya dari Iran dan Israel, Peringatkan Kemacetan di Perbatasan