BANGKOK,METROSELEBES.COM-Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali meningkat setelah kedua negara memperkuat kehadiran militer mereka di perbatasan yang belum ditetapkan secara resmi. Langkah ini diambil menyusul insiden bentrokan singkat pada 28 Mei lalu yang menewaskan seorang tentara Kamboja di wilayah sengketa. Seperti dikutip dari Reuters pada Sabtu, (07/06/2025).
Baca Juga: Israel Temukan Jenazah Sandera Thailand di Gaza, Serangan Udara Tewaskan 15 Warga Palestina
Menteri Pertahanan Thailand, Phumtham Wechayachai, yang juga menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri, menyampaikan bahwa peningkatan jumlah pasukan Kamboja di perbatasan mendorong Thailand untuk mengambil tindakan serupa sebagai bentuk tanggapan. Dalam pernyataan resminya pada Sabtu, ia menyebutkan bahwa Kamboja menolak sejumlah usulan dalam pertemuan bilateral terbaru yang bertujuan meredakan ketegangan.
“Selain itu, peningkatan kehadiran militer justru memperburuk situasi di sepanjang perbatasan,” ujar Phumtham. “Pemerintah Thailand memandang perlu untuk mengambil langkah tambahan dan memperkuat posisi militer kami.”
Baca Juga: Bank of England Mulai Ragu: Apakah Inflasi Masih Bisa Dikendalikan?
Meski tidak merinci jumlah penambahan pasukan, pihak militer Thailand menyebut telah terjadi pelanggaran wilayah oleh tentara dan warga sipil Kamboja. “Provokasi ini, serta pengerahan kekuatan militer, menunjukkan niat yang jelas untuk menggunakan kekerasan,” bunyi pernyataan militer Thailand. Mereka juga mengumumkan pengambilalihan kendali atas seluruh pos pemeriksaan di sepanjang perbatasan dengan Kamboja.
Saat ini, terdapat 17 pos perbatasan resmi antara Thailand dan Kamboja yang tersebar di tujuh provinsi, mencakup garis perbatasan sepanjang 817 kilometer. Juru bicara militer Thailand, Winthai Suvaree, memperingatkan bahwa pos-pos ini bisa saja ditutup lebih awal atau bahkan sepenuhnya, tergantung pada penilaian keamanan di masing-masing wilayah.
Di pihak Kamboja, Perdana Menteri Hun Manet menegaskan bahwa negaranya tidak berniat memulai konflik, namun siap mempertahankan kedaulatan. “Kami tidak akan memulai perang, tetapi kami akan membela diri,” ucapnya dalam pidato pada Sabtu. Ia juga menekankan bahwa strategi negaranya berlandaskan pada hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Thailand menyatakan bahwa Bangkok tetap berkomitmen terhadap dialog bilateral sebagai jalan untuk meredakan ketegangan. “Thailand siap untuk berunding melalui mekanisme yang telah disepakati, terutama dalam pertemuan Komisi Perbatasan Bersama Thailand-Kamboja (JBC) yang dijadwalkan pada 14 Juni mendatang,” kata juru bicara Nikorndej Balankura.
Artikel Terkait
Putusan Kontroversial: Mahkamah Agung AS Dukung DOGE Akses Data Sensitif Warga
Trump: Ketua The Fed Baru Segera Diumumkan, Harus Siap Turunkan Bunga
Soal Isu Pemakzulan Gibran, Jokowi: Ikuti Mekanisme Ketatanegaraan Saja
TBC Menyerang Diam-Diam: Indonesia Urutan Kedua Dunia, Mampukah Tercapai Eliminasi 2030?
Indonesia Ekspor Jagung ke Malaysia, Bukti Kemandirian Pertanian Nasional
Indonesia Ekspor Jagung ke Malaysia, Langkah Strategis Menuju Lumbung Pangan Dunia
Inflasi Terkendali, ECB Siap Akhiri Pemangkasan Suku Bunga
Musalem: Risiko Inflasi Berkepanjangan Akibat Tarif Trump Capai 50%, The Fed Waspada Hingga Musim Panas
Bank of England Mulai Ragu: Apakah Inflasi Masih Bisa Dikendalikan?
Israel Temukan Jenazah Sandera Thailand di Gaza, Serangan Udara Tewaskan 15 Warga Palestina