TOKYO,METROSELEBES.COM-Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah pada awal pekan ini, menyusul kekhawatiran pasar atas kebijakan tarif Presiden Donald Trump yang dinilai berisiko menghambat pertumbuhan ekonomi dan memicu inflasi. Sentimen negatif juga dipicu oleh ketegangan yang meningkat dalam hubungan perdagangan antara AS dan China. Seperti dikutip dari Reuters pada Senin (02/06/2025).
Baca Juga: Harga Minyak Naik Tajam, OPEC+ Pilih Konsistensi Ketimbang Kejutan
Dolar AS mengalami penurunan 0,3% terhadap yen Jepang, diperdagangkan pada level 143,57 yen pada pukul 04.39 GMT. Ini menghapus sebagian dari penguatan lebih dari 1% yang terjadi pada pekan lalu. Sementara itu, euro menguat tipis 0,1% ke posisi $1,1362, dan pound sterling naik 0,2% menjadi $1,3485. Dolar Australia dan Selandia Baru masing-masing menguat 0,3% dan 0,4% terhadap dolar AS.
Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, turun 0,1% ke angka 99,283. Penurunan ini mencerminkan kekhawatiran pasar atas arah kebijakan perdagangan AS yang tidak menentu.
Pelemahan dolar terjadi setelah Presiden Trump mengumumkan rencana untuk menggandakan tarif impor baja dan aluminium menjadi 50%, yang akan mulai berlaku pada Rabu. Kebijakan ini langsung mendapat respons keras dari China. Kementerian Perdagangan China menyatakan tuduhan AS bahwa China melanggar kesepakatan ekspor mineral kritis adalah "tidak berdasar" dan berjanji akan mengambil langkah-langkah tegas untuk melindungi kepentingannya.
Baca Juga: Perang Dagang Trump Guncang Ekonomi Global: Dari Tarif Ekspor Gila-Gilaan hingga Drama Pengadilan
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyampaikan pada hari Minggu bahwa Presiden Trump dan Presiden China Xi Jinping kemungkinan akan melakukan pembicaraan telepon dalam waktu dekat untuk meredakan ketegangan.
Pergerakan dolar AS dalam beberapa minggu terakhir sangat dipengaruhi oleh ketidakpastian kebijakan tarif yang berubah-ubah. Setelah pengumuman tarif "Hari Pembebasan" pada 2 April lalu, dolar mencatat pelemahan mingguan hingga 3% terhadap mata uang utama. Dua minggu sebelumnya, ancaman tarif 50% terhadap Eropa juga menyebabkan penurunan sebesar 1,9%.
Pekan lalu, dolar sempat menguat 0,3% setelah pembicaraan dagang dengan Uni Eropa kembali berjalan dan pengadilan perdagangan AS memblokir sebagian besar tarif Trump, menyatakan bahwa Presiden telah melebihi kewenangannya. Meskipun pengadilan banding kemudian mengaktifkan kembali tarif tersebut, banyak analis melihat kejadian ini sebagai bukti bahwa masih ada pengawasan terhadap kekuasaan eksekutif.
Baca Juga: Upaya Perdamaian Diblokir: Israel Gagalkan Kunjungan Menteri Arab ke Palestina
Artikel Terkait
Mampukah Pertemuan di Istanbul Hentikan Perang Ukraina-Rusia?
Flayer Undian BRImo Festival, Kepala BRI Palu : Itu Tidak Benar Alias Hoax
Kopdes Merah Putih Capai 75 Ribu: Bukti Nyata Kolaborasi Lintas Sektor Bangun Ekonomi Desa
Panen Tetap Cuan di Musim Kemarau: Ini 7 Tanaman Tahan Kering yang Cocok untuk Petani Indonesia”
Dari Jalanan Hong Kong ke Pameran di Taipei: Perjuangan Fu Tong Tak Berakhir
Trump dan Xi Akan Berdialog di Tengah Ketegangan Perdagangan Mineral Kritis
Upaya Perdamaian Diblokir: Israel Gagalkan Kunjungan Menteri Arab ke Palestina
Perang Dagang Trump Guncang Ekonomi Global: Dari Tarif Ekspor Gila-Gilaan hingga Drama Pengadilan
Harga Minyak Naik Tajam, OPEC+ Pilih Konsistensi Ketimbang Kejutan
Pelantikan Serentak Dua Bupati dan TP-PKK Sukses Warnai Awal Juni 2025 di Sulteng