Pertahanan Global Goyang: Ketika Eropa Berkata ‘Tidak’ pada Amerika di Asia

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Minggu, 1 Juni 2025 | 17:03 WIB
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing, dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan sekaligus Wakil Presiden Komisi Eropa. Source FOTO: REUTERS
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing, dan Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan sekaligus Wakil Presiden Komisi Eropa. Source FOTO: REUTERS

“Keamanan Eropa dan keamanan kawasan Pasifik sangat saling terkait,” tegas Kaja Kallas, Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri. Ia juga menyoroti peran penting Tiongkok dalam mendukung agresi militer Rusia di Ukraina serta keterlibatan Korea Utara dalam konflik tersebut.

 

Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menegaskan bahwa negaranya adalah kekuatan Indo-Pasifik, merujuk pada wilayah-wilayah jajahan seperti Kaledonia Baru dan Polinesia Prancis, serta kehadiran lebih dari 8.000 personel militer Prancis di kawasan.

 

“Kami bukan Tiongkok, bukan pula Amerika Serikat. Kami tidak ingin bergantung pada salah satu dari mereka,” ujar Macron. Ia mendorong terbentuknya "jalur ketiga" yang mempererat kerja sama antara Eropa dan Asia tanpa harus memilih kubu.

 

Baca Juga: Kemenkes Terbitkan Edaran Waspada COVID-19, Tren Menurun Tapi Varian Baru Mengintai Asia

Meski desakan AS mengarah pada fokus Eropa ke kawasan sendiri, analis militer menilai bahwa keterlibatan Eropa di Asia tidak mudah dikurangi. Banyak perjanjian, pelatihan militer, dan hubungan dagang serta pertahanan telah dibangun selama puluhan tahun.

 

Kapal induk Inggris dijadwalkan berlabuh di Singapura bulan ini, sebagai bagian dari program kebebasan navigasi di Laut China Selatan yang dimulai sejak 2017. Kunjungan ini juga terkait dengan komitmen Inggris dalam Perjanjian Pertahanan Lima Negara (Five Power Defence Arrangements/FPDA) yang mengikat militer Inggris dengan Singapura, Malaysia, Australia, dan Selandia Baru.

Baca Juga: Gagal Bersaing dengan Asia, Meyer Burger Tutup Pabrik dan Ajukan Kepailitan

Inggris juga memiliki pelatihan hutan di Brunei, helikopter, dan satu batalion Gurkha yang berkekuatan 1.200 personel di kawasan. Sementara Singapura mengoperasikan 12 jet tempur ringan di Prancis dengan dukungan 200 personel.

 

Di sektor industri, perusahaan-perusahaan pertahanan Eropa seperti Airbus, Damen, Naval Group, dan Thales telah lama aktif di Asia Tenggara. Bahkan, Saab dari Swedia dilaporkan hampir mengamankan kontrak pengadaan jet tempur Gripen dengan Thailand, mengalahkan F-16 buatan Lockheed Martin.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X