SINGAPURA,METROSELEBES.COM-Ketegangan geopolitik global, termasuk ketidakpastian arah kebijakan keamanan pemerintahan Trump, perang berkepanjangan di Ukraina, serta meningkatnya ketegangan antara India dan Pakistan, diprediksi akan menjadi fokus utama dalam pertemuan pertahanan paling bergengsi di Asia, Shangri-La Dialogue, yang akan berlangsung di Singapura pada 31 Mei hingga 1 Juni. Seperti dikutip dari Reuters.com pada Senin (26/05/2025).
Baca Juga: Tarif Ditunda, Euro Menguat: Akankah Damai Dagang AS-Uni Eropa Terwujud?
Forum tahunan yang diselenggarakan oleh International Institute for Strategic Studies (IISS) yang berbasis di London ini akan menghadirkan menteri pertahanan, pejabat militer dan keamanan tingkat tinggi, diplomat, analis, hingga produsen senjata dari berbagai negara di dunia.
Meskipun pidato Presiden Prancis Emmanuel Macron pada Jumat malam dijadwalkan menjadi sambutan utama, perhatian besar juga tertuju pada Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth. Dalam pidatonya pada Sabtu, Hegseth akan menguraikan visi kebijakan pertahanan pemerintahan Trump di kawasan Asia-Pasifik—sebuah pernyataan yang dinanti-nantikan oleh sekutu-sekutu regional AS, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap modernisasi militer Tiongkok dan konflik perairan di Asia Timur.
"Delegasi akan sangat ingin mendengar penegasan kembali komitmen Amerika terhadap keamanan regional," ujar Ian Storey, pakar keamanan kawasan dari ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapura. Namun, ia menambahkan bahwa tidak seperti di Eropa, tidak ada kekhawatiran besar bahwa AS akan menarik pasukannya dari kawasan Indo-Pasifik.
Hingga kini, Kementerian Pertahanan Tiongkok belum mengonfirmasi apakah Menteri Pertahanannya, Dong Jun, akan menghadiri dialog tersebut. Reuters masih menunggu tanggapan resmi dari pihak Tiongkok.
Baca Juga: Trump Isyaratkan Terobosan dalam Negosiasi Nuklir dengan Iran
Tahun ini, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dijadwalkan mengisi sesi khusus dalam forum tersebut. Anwar diperkirakan akan menyoroti upaya Malaysia dalam menyeimbangkan kepentingan ekonominya dengan relasi antara Tiongkok dan Amerika Serikat.
Shangri-La Dialogue dikenal sebagai ajang bebas dan terbuka, memungkinkan terjadinya perdebatan publik yang jarang muncul di forum lainnya, sekaligus membuka peluang pertemuan bilateral dan multilateral secara lebih tertutup. Namun, para analis menilai format informal ini kecil kemungkinannya menghasilkan terobosan besar terkait isu-isu pelik seperti invasi Rusia ke Ukraina maupun konflik India-Pakistan.
Artikel Terkait
Darurat Demokrasi atau Tafsir Ekonomi? Ungkap Rahasia Konstitusi Bersama Ahlinya
Empat Perusahaan Asal China Siap Investasi di Indonesia, Danantara Dorong Pabrik Baterai EV dan Data Center
Hong Kong Siap Tampung Mahasiswa Asing Usai Harvard Dilarang Terima Pelajar Internasional
BI Longgarkan Aturan, Perbankan Dapat Napas Baru Jelang Paruh Kedua 2025
Macron Kunjungi Vietnam: Teken Kesepakatan Airbus dan Satelit, Perkuat Kerja Sama Pertahanan
Trump Isyaratkan Terobosan dalam Negosiasi Nuklir dengan Iran
Pasar Global Bergejolak: Nvidia Tutup Musim Laporan Keuangan di Tengah Ancaman Inflasi dan Volatilitas Obligasi
Tarif Ditunda, Euro Menguat: Akankah Damai Dagang AS-Uni Eropa Terwujud?