“Kami tidak akan membiarkan rasa takut menghentikan kami dari menghadiri acara publik atau keagamaan,” tegas Halber.
Baca Juga: Dampak Kejut Kebijakan AS: Mahasiswa Tiongkok di Harvard Terancam Dipulangkan
Mayoritas institusi Yahudi di Washington memang telah menerapkan sistem keamanan ketat, termasuk penjaga bersenjata. Namun, insiden ini memunculkan pertanyaan baru soal perluasan zona pengamanan di sekitar lokasi-lokasi sensitif.
Gil Preuss, CEO Federasi Yahudi Washington Raya, mengatakan bahwa hampir semua organisasi Yahudi kini menambah jumlah petugas keamanan dan jam penjagaan. “Untuk saat ini masih bersifat jangka pendek, tapi kemungkinan besar akan menjadi permanen,” ujarnya.
Berbagai institusi Yahudi kini menggalang dana untuk memperkuat sistem keamanan mereka, sebagian melalui hibah lokal dan federal seperti Program Hibah Keamanan untuk Lembaga Nonprofit yang dikelola oleh FEMA. Setelah sempat tertunda karena pembekuan dana di masa pemerintahan Trump, pendanaan program ini kini kembali berjalan.
Baca Juga: Korpri Usul Batas Usia Pensiun ASN Diperpanjang, Istana: Belum Dibahas Secara Khusus
Sekitar 50 organisasi Yahudi juga telah mengajukan permintaan kepada Kongres AS untuk menaikkan anggaran program tersebut menjadi USD 1 miliar, lebih dari dua kali lipat dari jumlah saat ini.
Sementara itu, sinagoga-sinagoga seperti Adas Israel di Washington bersiap menyambut lonjakan jumlah jemaat dalam ibadah Shabbat akhir pekan ini. Rabi Sarah Krinsky mengatakan bahwa pasca-penembakan, kehadiran polisi semakin terlihat di sekitar sinagoga.
“Masyarakat ingin bersama, berduka, dan merasa aman. Tempat ibadah menjadi ruang perlindungan emosional dan spiritual bagi kami semua,” ujarnya.