Golden Dome terinspirasi dari sistem pertahanan rudal Iron Dome milik Israel, namun dalam skala jauh lebih besar dan berbasis luar angkasa. Selain satelit pengintai, proyek ini akan melibatkan armada satelit ofensif yang mampu menjatuhkan rudal musuh sejak awal peluncuran.
Departemen Pertahanan AS kini memulai fase uji coba sistem dan pembelian satelit, sensor, serta misil yang dibutuhkan. Negara bagian seperti Alaska, Florida, Georgia, dan Indiana diperkirakan akan menjadi pusat kegiatan utama produksi dan pengujian. Salah satunya adalah fasilitas baru L3Harris di Indiana, yang telah diinvestasikan sebesar $150 juta untuk memproduksi satelit pelacak rudal hipersonik dan balistik.
Baca Juga: Perang Ukraina Segera Berakhir? Trump Umumkan Negosiasi Gencatan Senjata, Putin Masih Ragu
Namun, pendanaan proyek masih belum pasti. Fraksi Republik di Kongres mengusulkan pendanaan awal sebesar $25 miliar sebagai bagian dari paket pertahanan senilai $150 miliar. Sayangnya, anggaran ini bergantung pada rancangan undang-undang rekonsiliasi yang masih menghadapi pertentangan sengit di parlemen.
“Tanpa lolosnya rekonsiliasi, dana untuk Golden Dome bisa gagal cair,” ungkap seorang eksekutif industri yang terlibat dalam program ini, yang berbicara secara anonim. “Ini bisa mengancam seluruh jadwal proyek secara keseluruhan.”
Baca Juga: Perang Ukraina Segera Berakhir? Trump Umumkan Negosiasi Gencatan Senjata, Putin Masih Ragu
Dengan pertaruhan politik, teknologi, dan finansial yang tinggi, Golden Dome menjadi salah satu proyek pertahanan paling ambisius dalam sejarah militer Amerika Serikat.