Tarif AS Ancam Masa Depan Mazda, Warga Hiroshima Bersiap Hadapi Dampaknya

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Jumat, 18 Juli 2025 | 17:59 WIB
Mobil-mobil merek Mazda Motor dipajang di sebuah dealer mobil di Hiroshima, Jepang, pada 15 Juli 2025. Source FOTO: REUTERS
Mobil-mobil merek Mazda Motor dipajang di sebuah dealer mobil di Hiroshima, Jepang, pada 15 Juli 2025. Source FOTO: REUTERS

HIROSHIMA,METROSELEBES.COM- Di Hiroshima, kota barat Jepang yang menjadi rumah bagi produsen mobil Mazda, ada ungkapan lama: "Jika Mazda bersin, semua orang masuk angin." Namun bagi Yuji Yamaguchi, pemilik pabrik suku cadang mobil, yang ia rasakan saat ini bukan sekadar gejala ringan—melainkan hawa dingin ekonomi yang membekukan. seperti dikutip dari Reuters pada Jumat (18/07/2025).

Baca Juga: Wells Fargo Hentikan Perjalanan ke China Usai Karyawannya Dilarang Keluar dari Negara Itu

Yamaguchi memimpin Nanjo Auto Interior, perusahaan berusia 110 tahun yang mempekerjakan hampir 1.000 orang dan memasok panel pintu serta komponen lainnya untuk Mazda. Lebih dari 90% pendapatannya bergantung pada Mazda. “Kalau Mazda mengurangi produksi, pesanan kami pasti turun,” ujarnya. “Yang jadi pertanyaan, bisakah kami tetap untung dengan volume yang lebih rendah?”

 

Mazda, sebagai mesin penggerak ekonomi utama Hiroshima—kota industri yang terletak 800 km di barat daya Tokyo—tengah berada dalam posisi sulit. Ancaman tarif impor mobil sebesar 25% dari Amerika Serikat membayangi masa depan bisnisnya. Bagi masyarakat yang sudah dibebani inflasi dan kondisi ekonomi yang lemah, ini menjadi beban tambahan menjelang pemilu majelis tinggi Jepang yang akan digelar Minggu ini.

Baca Juga: Jaguar Land Rover Dukung Proyek Daur Ulang Baterai EV di Inggris, Didanai Pemerintah Rp55 Triliun

Perdana Menteri Shigeru Ishiba belum berhasil mengamankan keringanan tarif dari AS, sekutu utama Jepang. “Saya sudah tak berharap apa-apa lagi dari pemerintah,” kata Yamaguchi, cicit dari pendiri Mazda, Jujiro Matsuda. “Saya bahkan sudah melewati tahap frustrasi—saya hanya pasrah.”

 

Mazda adalah salah satu produsen mobil Jepang yang paling terdampak tarif AS. Penjualannya di AS anjlok 18,6% pada Mei dan 6,5% di Juni dibandingkan tahun lalu. Sebagian besar mobil Mazda yang dijual di AS merupakan hasil impor dari Jepang, membuatnya sangat rentan terhadap kebijakan dagang proteksionis Negeri Paman Sam.

 

Sektor otomotif menyumbang sekitar 28% dari total ekspor Jepang ke AS yang mencapai USD 145 miliar tahun lalu. Menurut survei Teikoku Databank pada Juli, lebih dari 68.000 perusahaan terlibat dalam rantai pasok otomotif Jepang, yang mempekerjakan 5,6 juta orang—sekitar 8% dari seluruh angkatan kerja negara itu.

Baca Juga: Tarik Diri dari Pasar AS, Volvo Pangkas Penjualan dan Hentikan Model Sedan karena Tekanan Tarif

“Sekali rantai pasok rusak, sangat sulit membangunnya kembali,” ujar Hideki Tsuchikawa, kepala riset Teikoku Databank cabang Hiroshima. “Industri otomotif adalah industri inti nasional. Dukungan pemerintah sangat krusial.”

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X