Serangan terhadap Fasilitas Medis dan Infrastruktur Nuklir
Iran menuduh Israel menyerang tiga rumah sakit dan enam ambulans selama konflik berlangsung, menewaskan dua petugas kesehatan dan seorang anak. Menteri Kesehatan Iran, Mohammadreza Zafarqandi, mengungkapkan bahwa fasilitas medis menjadi salah satu target dalam serangan terbaru. Israel membantah sengaja menyerang sasaran sipil, namun mengakui kemungkinan adanya "kerusakan tambahan" dalam beberapa operasi.
Sebaliknya, sebuah rudal Iran dilaporkan menghantam rumah sakit di Beersheba, Israel selatan, pada hari Kamis, memperburuk dampak kemanusiaan konflik ini.
Israel juga disebut telah menyerang fasilitas nuklir besar di Isfahan, meskipun Iran menegaskan tidak ada kebocoran zat berbahaya. Militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka melancarkan gelombang serangan terhadap gudang penyimpanan dan peluncuran rudal milik Iran.
Iran Tolak Diplomasi di Tengah Serangan. Di tengah tekanan internasional untuk meredakan ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menegaskan bahwa negaranya tidak akan kembali ke meja perundingan selama agresi militer Israel terus berlangsung. Dalam konferensi pers di Istanbul pada pertemuan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), Araqchi menuding ada indikasi keterlibatan AS dalam agresi Israel.
“Saya tidak bisa bernegosiasi dengan AS saat rakyat kami dibombardir dengan dukungan mereka,” katanya.
Sebelumnya, Araqchi sempat bertemu dengan para menteri luar negeri Eropa di Jenewa dalam upaya memulihkan jalur diplomasi. Namun, upaya itu belum menunjukkan hasil nyata.
Trump dan Dilema Keterlibatan AS. Presiden Donald Trump menyatakan akan memutuskan dalam dua minggu apakah AS akan turut campur dalam konflik ini di pihak Israel. Ia mengisyaratkan bahwa Iran mungkin hanya berjarak beberapa minggu dari kemampuan memiliki senjata nuklir.