internasional

Trump dan Xi Siap Bicara di Tengah Memanasnya Perang Dagang Global

Selasa, 3 Juni 2025 | 21:39 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghadiri pertemuan bilateral dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping selama KTT para pemimpin G20 di Osaka, Jepang, pada 29 Juni 2019. Source FOTO: REUTERS

LONDON,METROSELEBES.COM-Ketegangan global akibat perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali mencuat, namun harapan muncul setelah kabar bahwa Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping dijadwalkan melakukan pembicaraan penting dalam minggu ini. Seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (03/06/2025).

Baca Juga: Di Tengah Perlambatan, Pemerintah Rusia Ingin Kebijakan Moneter Dilonggarkan

Pertemuan via telepon antara kedua pemimpin dijadwalkan berlangsung pada Kamis, di tengah kekhawatiran bahwa perang dagang yang memanas bisa bereskalasi menjadi "perang dingin baru" yang lebih panas. Bahkan, kanselir Jerman Friedrich Merz yang akan bertemu Trump di Washington pada hari yang sama, berpotensi ikut serta dalam pembicaraan trilateral dengan dua kekuatan ekonomi terbesar dunia.

 

Sumber dari Gedung Putih menyebutkan bahwa Washington sedang berpacu dengan waktu menjelang akhir masa tenggang 90 hari atas pemberlakuan tarif balasan yang dimulai pada 2 April. Pemerintahan Trump dikabarkan telah mengirimkan surat rancangan ke negara-negara mitra dagang, meminta proposal terbaik mereka sebelum Rabu guna mempercepat negosiasi. Namun, pejabat Uni Eropa menyatakan belum menerima surat tersebut, yang menimbulkan spekulasi soal eksklusivitas pembicaraan ini.

Baca Juga: Produksi Golf Menurun, Apakah Empat Hari Kerja Cukup?

Sementara itu, efek negatif dari perang tarif mulai terasa di sektor manufaktur global. Aktivitas pabrik AS mengalami kontraksi selama tiga bulan berturut-turut hingga Mei, dengan waktu pengiriman pasokan terlama dalam tiga tahun terakhir—mengindikasikan potensi kelangkaan barang. Angka terbaru bahkan menjadi yang terendah dalam enam bulan dan meleset dari ekspektasi pasar.

 

Di sisi lain, survei swasta menunjukkan aktivitas pabrik di Tiongkok juga menyusut untuk pertama kalinya dalam delapan bulan, menunjukkan bahwa beban tarif AS mulai benar-benar menggigit raksasa manufaktur Asia tersebut.

Baca Juga: Target Energi Bersih 2030 Terancam, Siemens Desak Inggris Naikkan Kapasitas Lelang Angin Laut

Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) pun merevisi proyeksi pertumbuhan global ke bawah, memperkirakan perlambatan ekonomi yang lebih tajam dari perkiraan sebelumnya sebagai imbas langsung dari perang dagang.

 

Dalam pasar keuangan, dolar AS dan obligasi Treasury mulai stabil setelah awal minggu yang goyah. Namun, saham masih berfluktuasi akibat kekhawatiran stagflasi, tekanan tarif, dan tren suku bunga. Inflasi zona euro yang mengejutkan—turun ke 1,9% dari 2,2% di bulan April—juga meningkatkan kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh Bank Sentral Eropa.

Baca Juga: Meta dan Energi Nuklir: Langkah Besar Teknologi Dunia yang Bisa Jadi Contoh untuk Indonesia

Halaman:

Tags

Terkini