SINGAPURA,METROSELEBES.COM-Forum keamanan internasional Shangri-La Dialogue tahun ini menyingkap dinamika geopolitik baru. Jika biasanya diwarnai ketegangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok, edisi 2025 justru memunculkan ketegangan baru: gesekan antara AS dan Eropa terkait peran di kawasan Asia-Pasifik.
Baca Juga: Inilah Cerita Tentang Burung Garuda Yang Jadi Lambang Negara Indonesia
Dalam pidatonya di forum tahunan yang diadakan di Singapura, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth memperingatkan ancaman "segera" dari Tiongkok, namun sekaligus menyerukan agar negara-negara Eropa lebih memusatkan perhatian pada keamanan benua mereka sendiri.
“Kami lebih memilih jika sebagian besar investasi pertahanan Eropa tetap berada di benua itu... agar kami bisa memanfaatkan keunggulan kami sebagai negara Indo-Pasifik untuk mendukung mitra-mitra kami di sini,” ujar Hegseth, Minggu (01/06/2025).
Baca Juga: Fakta Sejarah 1 Juni, Hari Lahir Pancasila Yang Sempat Dilarang Di Era Soeharto
Hegseth juga menyoroti absennya Menteri Pertahanan Tiongkok Dong Jun dalam forum tersebut, yang hanya diwakili oleh delegasi tingkat rendah berisi akademisi militer. Ketidakhadiran itu dinilai mencerminkan sikap Beijing yang makin tertutup dalam forum internasional.
Sementara itu, panggung Shangri-La Dialogue juga dipanaskan oleh kehadiran delegasi militer tingkat tinggi dari India dan Pakistan—dua negara bersenjata nuklir yang baru saja mengakhiri bentrokan perbatasan intensif dengan gencatan senjata pada 10 Mei. Kedua delegasi tampil lengkap dengan seragam dan medali kehormatan, namun secara jelas menghindari kontak langsung satu sama lain selama forum berlangsung.
Di sisi lain, para perwakilan Eropa menanggapi dingin desakan Washington. Mereka menegaskan tetap akan mempertahankan kehadiran strategis di Asia, sembari terus memperkuat pertahanan regional.