WASHINGTON,METROSELEBES.COM-Presiden Donald Trump kembali mengkritik energi terbarukan seperti angin dan surya sebagai penyebab ketidakstabilan dan mahalnya listrik di Amerika Serikat. Namun data dari negara bagian Texas justru menunjukkan hal sebaliknya: harga listrik lebih murah dan keandalan pasokan meningkat di tengah melonjaknya pemanfaatan energi hijau. Dikutip dari Reuters pada Kamis (10/07/2025).
Baca Juga: Jenazah Dibawa dengan Motor, Pengabdian Terakhir Ariel Sharon Menembus Jalan Terjal Pinembani
Trump menggunakan argumen tersebut untuk mendukung pemangkasan subsidi besar-besaran terhadap energi terbarukan melalui rancangan undang-undang “One Big Beautiful Bill” yang baru saja disahkan Kongres. RUU ini menghapus berbagai insentif pajak bagi proyek tenaga surya dan angin, serta memperkuat ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Namun, data dari Electric Reliability Council of Texas (ERCOT), operator utama jaringan listrik Texas, justru menunjukkan tren positif. Berdasarkan laporan terbaru ERCOT, kemungkinan terjadi pemadaman bergilir saat puncak beban listrik bulan Agustus hanya 0,30%, turun drastis dari 12% pada Agustus 2024.
Harga listrik di Texas pun tercatat sekitar 10 sen per kilowatt-jam — 24% lebih rendah dari rata-rata nasional, menurut laporan bulanan Badan Informasi Energi AS.
Baca Juga: Tesla Siap Ekspansi Layanan Robotaksi ke San Francisco, Tunggu Lampu Hijau Regulasi
“ERCOT berhasil merancang produk-produk kelistrikan dan sistem keandalan dengan sangat baik,” ujar Joshua Rhodes, peneliti di Universitas Texas, Austin. “Model ini bisa jadi contoh bagi wilayah lain.”
Kunci keberhasilan Texas adalah kombinasi tenaga surya, angin, dan investasi besar dalam baterai penyimpanan energi. Sejak pertengahan 2024, kapasitas baterai di jaringan Texas meningkat hampir 5 gigawatt, dan kini totalnya telah melampaui 8 gigawatt. ERCOT memperkirakan kapasitas tersebut akan bertambah hingga 174 gigawatt dalam lima tahun mendatang.
Sementara itu, wilayah PJM Interconnection — jaringan listrik terbesar di AS yang masih mengandalkan bahan bakar fosil — mengalami sebaliknya. Di Ohio, yang merupakan bagian dari PJM, harga listrik diprediksi naik lebih dari 20% tahun ini. Menurut laporan Departemen Energi AS (DOE), wilayah PJM berisiko mengalami pemadaman hingga lebih dari 1.000 jam per tahun dalam skenario terburuk, jika tidak ada tambahan pembangkit baru secara masif.
Baca Juga: Sulawesi Tengah Menuju Simpul Konektivitas Nasional: 1.000 Km Jalan Baru Dorong Ekonomi dan Wisata
Artikel Terkait
Sulawesi Tengah Menuju Simpul Konektivitas Nasional: 1.000 Km Jalan Baru Dorong Ekonomi dan Wisata
Gubernur Anwar Hafid: Integritas ASN Adalah Fondasi Utama Cegah Korupsi
Yusril Klarifikasi Isu Gibran Akan Berkantor di Papua: Tidak Benar, Hanya Badan Khususnya Saja
Automaker Bergegas Dorong Penjualan Mobil Listrik Jelang Berakhirnya Insentif Pajak AS Senilai $7.500
BYD Ungguli Tesla? Mobil Listriknya Dijamin Aman Saat Parkir Otomatis
Ledakkan Ekonomi Desa! 80 Ribu Koperasi Desa Merah Putih Ditarget Serap 2 Juta Tenaga Kerja
Wanita Lompat Dari Lantai 19 Kalibata City Gegerkan Warga, Polisi: Kaget Temukan Orang Tak Dikenal di Kamar
Pernah Akui Jadi Pemeran Video Syur, Lisa Mariana Kini Dipanggil Polda Jabar
Tesla Siap Ekspansi Layanan Robotaksi ke San Francisco, Tunggu Lampu Hijau Regulasi
Jenazah Dibawa dengan Motor, Pengabdian Terakhir Ariel Sharon Menembus Jalan Terjal Pinembani