WASHINGTON,METROSELEBES.COM-Di markas Komando Antariksa Amerika Serikat (U.S. Space Command) di Colorado Springs, para perencana militer tengah berpacu dengan waktu untuk menyusun strategi menghadapi kemungkinan pecahnya perang besar pertama di luar angkasa. Tenggat yang membayangi mereka: tahun 2027 — saat di mana Presiden China Xi Jinping diyakini telah memerintahkan militernya siap untuk menginvasi Taiwan. Seperti dikutip dari Reuters pada Jumat (13/06/2025).
Konflik semacam itu tidak hanya akan melibatkan rudal dan drone, tetapi juga pertempuran orbital yang rumit, memanfaatkan komunikasi satelit, serangan elektronik, drone otonom berbasis kecerdasan buatan, hingga wahana antariksa yang bisa membuntuti dan menyerang satu sama lain — sebuah era baru yang kini mulai disebut sebagai “dogfight antariksa”.
Lonceng Bahaya dari Orbit. Dalam dua tahun terakhir, sejumlah perkembangan telah memperkuat kekhawatiran ini. Amerika Serikat menuduh Rusia tengah mengembangkan senjata nuklir orbital. Di sisi lain, China mempertimbangkan untuk mempersenjatai stasiun luar angkasa Tiangong dengan drone tempur, sebagai respons terhadap dugaan pendekatan oleh wahana asing. Bahkan, Komando Luar Angkasa AS menyatakan telah mengamati lima objek China yang bermanuver secara sinkron seperti simulasi pertempuran.
Pada bulan Mei lalu, Rusia meluncurkan objek luar angkasa yang tampaknya membuntuti satelit milik pemerintah AS. Analis independen menduga objek tersebut — bernama Cosmos-2588 — berpotensi memiliki kapabilitas ofensif.
Baca Juga: Kemlu RI Pastikan Tak Ada WNI Jadi Korban Jatuhnya Pesawat Air India di Ahmedabad
Sementara itu, China juga mulai melontarkan tuduhan serupa. Seorang ilmuwan senior menyatakan stasiun luar angkasa Tiangong telah beberapa kali didekati oleh wahana tak dikenal. Beijing pun dikabarkan tengah mengembangkan sistem pertahanan cepat berupa robot pendorong yang bisa menghalau atau bahkan “menangkap” wahana asing.
Persaingan Bulan dan Dominasi Orbital. Di tengah keretakan hubungan antara AS, Rusia, dan mitra-mitra lama di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS), rencana penonaktifan ISS pada 2030 akan menjadikan Tiangong satu-satunya pos permanen manusia di orbit. Jika stasiun ini dipersenjatai, maka akan menjadi babak baru yang menegangkan dalam geopolitik luar angkasa.
AS dan sekutunya saat ini berlomba dengan proyek gabungan China-Rusia untuk mengembalikan manusia ke bulan. Beijing bahkan berniat mendirikan basis robotik permanen di sana, membuka potensi eksplorasi sumber daya — sekaligus keuntungan militer.
Baca Juga: Naikkan Gaji Hakim Hingga 280 Persen, Prabowo: Lebih Baik Untuk Hakim Daripada Dicuri Koruptor
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Bangun Giant Sea Wall Lindungi Pantai Utara Jawa
Pemkot Palu Dorong Penguatan Budaya Data Lewat FGD Metadata Statistik Sektoral
Prabowo Optimis Entaskan Kemiskinan Sebelum 2045, Sebut Indonesia Bakal Masuk 5 Besar Ekonomi Dunia
Ivan Gunawan Ungkap Momen Spiritual di Balik Keputusan Mendadak Berangkat Haji
KPK Dalami Dugaan Korupsi Rp1,2 Triliun Dana Operasional Gubernur Papua, WNA Singapura Diperiksa Terkait Pembelian Private Jet
Kemlu RI Pastikan Tak Ada WNI Jadi Korban Kerusuhan di Los Angeles, Dua WNI Diamankan Karena Masalah Keimigrasian
Naikkan Gaji Hakim Hingga 280 Persen, Prabowo: Lebih Baik Untuk Hakim Daripada Dicuri Koruptor
Kemlu RI Pastikan Tak Ada WNI Jadi Korban Jatuhnya Pesawat Air India di Ahmedabad
Anggota DPR RI Longki Djanggola Dampingi Warga Rio Pakava Adukan Sengketa Lahan Sawit ke Kanwil ATR/BPN Sulteng
Indonesia Tancap Gas Infrastruktur Hijau: Kolaborasi Strategis di Panggung Global ICI 2025