Perjanjian Dagang AS-India: Peluang atau Tantangan?

photo author
Moh. Nurfiansyah, Metro Selebes
- Rabu, 28 Mei 2025 | 03:42 WIB
Bendera India, bendera AS, dan miniatur orang dengan laptop terlihat dalam ilustrasi ini. Source FOTO: REUTERS
Bendera India, bendera AS, dan miniatur orang dengan laptop terlihat dalam ilustrasi ini. Source FOTO: REUTERS

 

NEW DELHI,METROSELEBES.COM-Sebuah kesepakatan dagang antara India dan Amerika Serikat berpotensi mendorong lonjakan ekspor serta membuka akses pasar baru bagi India, menurut laporan tinjauan ekonomi bulanan dari Kementerian Keuangan India yang dirilis Selasa (27/05/2025).

Baca Juga: Jepang Pertimbangkan Pengurangan Penerbitan Obligasi Super-Jangka Panjang untuk Redam Gejolak Pasar

Laporan tersebut menyatakan bahwa keberhasilan perjanjian dagang ini bisa mengubah tantangan perdagangan yang ada menjadi peluang besar, dengan menciptakan angin segar bagi sektor ekspor dan memperkuat hubungan ekonomi antara kedua negara.

 

“Kesepakatan dagang yang sukses antara AS dan India dapat mengubah tantangan saat ini menjadi peluang, membuka akses pasar baru dan memberi energi baru pada ekspor,” tulis laporan tersebut.

Baca Juga: Ekonomi Tiongkok Bangkit atau Hanya Sekadar Nafas Panjang?

Menteri Perdagangan India, Piyush Goyal, baru saja mengunjungi Washington pekan lalu untuk mempercepat pembicaraan dagang. Kedua negara menargetkan penandatanganan perjanjian sementara pada awal Juli, memanfaatkan jeda 90 hari atas kenaikan tarif impor yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada 9 April lalu. Kebijakan tersebut termasuk pengenaan tarif sebesar 26% terhadap barang impor dari India, yang kini sedang ditangguhkan.

 

Amerika Serikat saat ini merupakan mitra dagang terbesar India, dengan total nilai perdagangan bilateral mencapai sekitar USD 129 miliar pada tahun 2024. Neraca perdagangan saat ini berpihak pada India, dengan surplus sebesar USD 45,7 miliar terhadap AS.

Baca Juga: Lee Jae-myung Unggul Jauh Jelang Pilpres Korea Selatan, Isu Politik dan Keamanan Mengemuka

Selain isu perdagangan, laporan tersebut juga menyoroti kebijakan fiskal pemerintah seperti pembebasan pajak langsung, stimulus fiskal, serta penurunan suku bunga oleh bank sentral yang diyakini dapat mempercepat pemulihan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ke kisaran atas proyeksi, yakni antara 6,3% hingga 6,8% pada tahun fiskal ini.

 

Pengeluaran modal pemerintah disebut memainkan peran krusial dalam menjaga aktivitas ekonomi serta melindungi perekonomian dari guncangan global. Selain itu, pemotongan pajak penghasilan pribadi dan pelonggaran moneter diharapkan mampu merangsang konsumsi serta investasi swasta.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Moh. Nurfiansyah

Sumber: Reuters

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X