TOKYO,METROSELEBES.COM-Pemerintah Jepang tengah mempertimbangkan pengurangan penerbitan obligasi super-jangka panjang di tengah lonjakan imbal hasil (yield) yang tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Langkah ini bertujuan meredakan kekhawatiran pasar atas memburuknya kondisi keuangan negara, menurut dua sumber yang memiliki pengetahuan langsung mengenai rencana tersebut, seperti dikutip dari Reuters pada Selasa, (27/05/2025).
Baca Juga: Ekonomi Tiongkok Bangkit atau Hanya Sekadar Nafas Panjang?
Kementerian Keuangan Jepang (MOF) dikabarkan akan meninjau ulang komposisi program obligasinya untuk tahun fiskal berjalan. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah pemangkasan penerbitan obligasi bertenor 20, 30, dan 40 tahun. Keputusan akhir akan diambil setelah berdiskusi dengan para pelaku pasar, yang dijadwalkan berlangsung antara pertengahan hingga akhir Juni.
Reaksi Pasar: Yen Melemah, Yield Turun. Laporan ini langsung berdampak signifikan terhadap pasar keuangan. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 30 tahun turun 12,5 basis poin ke level 2,91%, terendah sejak 14 Mei. Yield obligasi 10 tahun juga turun 5 basis poin menjadi 1,455%. Sementara itu, nilai tukar dolar AS menguat 0,3% terhadap yen, mencapai 143,275.
Baca Juga: Lee Jae-myung Unggul Jauh Jelang Pilpres Korea Selatan, Isu Politik dan Keamanan Mengemuka
Penurunan imbal hasil JGB berdampak luas hingga ke pasar obligasi global, mendorong penurunan yield obligasi pemerintah AS bertenor panjang. Yield obligasi 30 tahun AS tercatat turun 7 basis poin menjadi 4,963% dalam perdagangan awal di London, mencatat penurunan harian terbesar sejak pertengahan April.
Analis dari Societe Generale menilai, pasar kini mengantisipasi bahwa Kementerian Keuangan Jepang akan mengambil langkah konkret untuk mengatasi ketidakseimbangan permintaan dan pasokan di pasar obligasi jangka panjang.
Tidak Akan Tambah Total Utang. Meski mempertimbangkan pengurangan pada obligasi jangka panjang, total penerbitan obligasi pemerintah untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026 dipastikan tetap berada di angka 172,3 triliun yen (sekitar 1,21 triliun dolar AS). Jika ada pengurangan di obligasi jangka panjang, maka penerbitan obligasi jangka pendek kemungkinan akan ditingkatkan sebagai kompensasi.
Baca Juga: Pengobatan Alat Vital Paling Ampuh di Sigi, Palu oleh H. Abdul Azis
Artikel Terkait
Desa Wombo Kabupaten Donggala Diterjang Banjir Bandang; Fasilitas Sekolah, Masjid dan Rumah Warga Banyak yang Rusak
Diplomasi ASEAN di Tengah Gejolak Global: Indonesia Gaet Laos dan Singapura Perkuat Ekonomi dan Stabilitas Kawasan
ASN Kementerian Koperasi Resmi Bertugas: Langkah Awal Menuju Birokrasi Profesional dan Inovatif
Empat Srikandi Belanda Resmi Jadi WNI, Siap Perkuat Timnas Sepak Bola Putri Indonesia
Jagung NTB Tembus Blitar: Strategi Bapanas Jaga Harga dan Penuhi Pakan Ternak
Korea Utara Kecam Proyek Golden Dome AS: "Skenario Perang Nuklir di Luar Angkasa"
Koperasi Merah Putih Jadi Ujung Tombak Distribusi Subsidi
Pengobatan Alat Vital Paling Ampuh di Sigi, Palu oleh H. Abdul Azis
Lee Jae-myung Unggul Jauh Jelang Pilpres Korea Selatan, Isu Politik dan Keamanan Mengemuka
Ekonomi Tiongkok Bangkit atau Hanya Sekadar Nafas Panjang?