SINGAPURA,METROSELEBES.COM-Kekhawatiran terhadap kemungkinan konflik militer antara China dan Taiwan kini menjadi perhatian utama investor global, terutama setelah Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden Amerika Serikat. Risiko yang dulu dianggap sangat kecil kini dianggap sebagai ancaman nyata yang sulit untuk diantisipasi. Kamis (22/05/2025)
Baca Juga: Delegasi National Defence College Nigeria Pelajari Strategi Pengembangan UMKM Indonesia
Taiwan, yang diperintah secara demokratis, telah lama menjadi sumber ketegangan dalam hubungan AS-China. Ketegangan ini meningkat sejak Trump mulai memberlakukan tarif perdagangan sejak awal masa jabatannya, yang mengguncang pasar global. Kini, ancaman invasi China terhadap Taiwan tidak lagi dianggap mustahil.
Bagi investor, invasi China akan berarti berakhirnya Taiwan sebagai pasar mandiri dengan mata uang dan identitas tersendiri. Dalam kondisi seperti itu, pilihan yang tersisa hanyalah keluar sepenuhnya atau tetap berinvestasi sambil berharap yang terbaik.
Baca Juga: Danantara Akan Masuk Proyek Energi, Menteri Bahlil Pastikan Porsi Investasi Akan Diatur ESDM
Mukesh Dave, Chief Investment Officer di Aravali Asset Management, mengatakan risiko invasi hampir mustahil untuk dilindungi. "Kamu tidak bisa menyelesaikan transaksi, bahkan mata uangnya bisa lenyap sepenuhnya," ujarnya. "Pilihan hanya dua: lanjut seperti biasa atau menjauh sama sekali."
Sentimen ini tercermin dari data platform taruhan Polymarket, yang menunjukkan bahwa kemungkinan invasi China ke Taiwan melonjak menjadi 12%, naik dari hampir nol awal tahun ini.
Baca Juga: Aplikasi Peduli Lindungi Disusupi Judi Online, Komdigi Resmi Blokir Akses
Investor asing telah menarik hampir $11 miliar dari pasar saham Taiwan sepanjang tahun ini. Meski sebagian besar disebabkan oleh kekhawatiran atas tarif dan perlambatan ekonomi, mereka mulai kembali secara hati-hati pada bulan Mei. Indeks acuan Taiwan (TWII) tercatat turun 6% sepanjang tahun ini.