Meski bersifat fiktif atau satire, konten-konten semacam ini secara tak langsung menunjukkan kesadaran kolektif publik terhadap pentingnya supremasi hukum yang benar-benar ditegakkan tanpa diskriminasi.
Sosiolog Universitas Indonesia, Dr. Agung Pranoto, mengatakan bahwa viralnya konten seperti “Polisi TikTok Beraksi” adalah bentuk ekspresi frustrasi sekaligus harapan publik.
> “Ketika publik merasa keadilan tidak merata, satire menjadi saluran ekspresi dan sekaligus protes yang paling aman namun berdampak besar secara sosial,” ujarnya.
Baca Juga: PM Australia Albanese Serukan Kerja Sama dengan China Atasi Kelebihan Kapasitas Baja Global
Di tengah banyaknya kasus besar yang tengah mencuat ke permukaan, mulai dari korupsi berjamaah hingga abuse of power, konten seperti ini menjadi medium suara publik yang harusnya tak hanya dianggap hiburan belaka, melainkan sinyal kuat bahwa masyarakat mendambakan perubahan nyata.
Melalui "Polisi TikTok Beraksi", netizen seolah mengirim pesan tegas:
Keadilan bukan hanya untuk ditonton dalam video—tapi untuk diwujudkan dalam kenyataan.***
Artikel Terkait
Wali Kota Iwanuma, Jepang, Kunjungi Palu Bahas Komunitas Tangguh Bencana
Bukan Perundungan, Kuasa Hukum Lita Gading Klaim Video soal Anak Ahmad Dhani Bersifat Edukasi
Trump Murka, Ini Daftar Lengkap 11 Negara Anggota Tetap BRICS yang Kini Dituding Jadi Ancaman Ekonomi AS
Pertanyakan Waktu KKN dan Wisuda, Dokter Tifa Kembali Soroti Dugaan Ijazah Palsu Jokowi
Kunjungi Huntap Tondo, Wali Kota Iwanuma dan Wakil Wali Kota Palu Serahkan Hadiah Tamaura Tournament
Rusia dan Tiongkok Bahas Perang Ukraina dan Hubungan dengan AS di Tengah Ketegangan Global
PM Australia Albanese Serukan Kerja Sama dengan China Atasi Kelebihan Kapasitas Baja Global
Tarif Trump 32% Mengancam Ekspor, Prabowo Gerak Cepat Cari Pasar Baru
7 Tepat” Bikin Tepat Sasaran: Petani hingga Pembudidaya Ikan Kini Nikmati Pupuk Bersubsidi
100 Kunci Harapan: Rumah Subsidi untuk Rakyat, Langkah Nyata Pemerintah Pro Rakyat