Analis otomotif Julie Boote dari Pelham Smithers Associates di London memperingatkan, Mazda dan produsen Jepang kecil lainnya bisa kehilangan pangsa pasar AS kepada rival yang lebih besar.
Mazda yang berbasis di Hiroshima sejauh ini belum merilis proyeksi laba tahunan, mengutip ketidakpastian akibat tarif. Dalam pernyataannya kepada Reuters, Mazda menyatakan prioritas utamanya adalah melindungi mitra bisnis—termasuk pemasok, dealer, dan karyawan. Mereka tengah meminta dukungan dari pemerintah dan menyusun berbagai strategi untuk meredam dampak kebijakan tersebut.
Baca Juga: Krisis SDM Melanda Badan Keselamatan Mobil AS, Lebih dari 25% Pegawai Mundur
Pemangkasan Lembur, Penurunan Konsumsi
Efek ekonomi dari kebijakan tarif juga terasa hingga ke kehidupan malam di kota Fuchu dekat markas Mazda. Koji Sasaki, pemilik bar berusia 54 tahun, mengeluhkan penurunan pelanggan. “Tanpa lembur, tak ada uang untuk minum,” katanya. Karyawan Mazda yang biasanya ramai berkunjung kini jarang terlihat, dan beberapa bahkan meminta maaf karena tak bisa sering datang.
Toshiyuki Shimizu (45), pegawai Mazda, mengatakan perusahaan sudah memangkas jam lembur dan perjalanan dinas. Akira Ichigi (32), rekan kerjanya, menambahkan, “Dulu kami bawa staf junior saat perjalanan bisnis, sekarang saya pergi sendirian. Sayang sekali karena itu pengalaman penting bagi mereka.”
Mazda telah membentuk tim strategi tarif yang rutin bertemu setiap minggu di Hiroshima. Namun, menurut seorang sumber internal, mereka menghadapi hambatan besar: kekurangan tenaga kerja di AS yang membatasi kapasitas pabrik Mazda-Toyota di sana.
Baca Juga: Uber Investasikan $300 Juta ke Lucid untuk Luncurkan 20.000 Robotaxi Mulai 2026
Perusahaan menargetkan pemangkasan biaya sebesar 100 miliar yen melalui pengurangan lembur dan evaluasi perjalanan bisnis. Perjalanan penting tetap dilakukan, tapi jumlah peserta diperketat.
Saat ini, Yamaguchi belum mengambil langkah konkret untuk menghadapi tekanan tarif. Ia memilih fokus pada efisiensi jangka panjang, sebagaimana yang dilakukan saat pandemi COVID-19. “Kalau kami tidak berinvestasi di 2025, kami bisa kehilangan peluang besar,” pungkasnya.