BANGKOK,METROSELEBES.COM-Produsen mobil listrik asal Tiongkok, BYD, akan menunda produksi massal di pabrik barunya di Szeged, Hongaria, hingga tahun 2026, dan hanya akan menjalankan fasilitas tersebut di bawah kapasitas penuh selama setidaknya dua tahun pertama. Informasi ini diperoleh dari dua sumber yang mengetahui langsung rencana perusahaan. Seperti dikutip dari Reuters pada Selasa (22/07/2025).
Baca Juga: Hadiri Sidang di MK, Lesti Kejora Ungkap Ketidaknyamanan Usai Dilaporkan Terkait Hak Cipta
Sebaliknya, BYD justru mempercepat produksi di pabrik barunya di Manisa, Turki, di mana biaya tenaga kerja lebih rendah. Menurut salah satu sumber, produksi di Turki akan jauh melampaui target awal, bahkan mengungguli output pabrik di Hongaria pada tahun depan.
Penundaan ini menjadi pukulan bagi Uni Eropa yang berharap tarif atas kendaraan listrik buatan Tiongkok dapat menarik investasi dan menciptakan lapangan kerja manufaktur bergaji tinggi di kawasan tersebut. Pabrik senilai 4 miliar euro (sekitar Rp81 triliun) di Szeged awalnya dirancang untuk memproduksi 150.000 kendaraan per tahun, dan mencapai kapasitas maksimal 300.000 unit. Namun pada 2026, jumlah kendaraan yang diproduksi diperkirakan hanya puluhan ribu unit saja.
Seorang sumber ketiga mengonfirmasi bahwa peluncuran operasional di Szeged tetap direncanakan pada Oktober tahun ini, tetapi produksi massal akan berlangsung secara bertahap dan masih di bawah target hingga setidaknya 2027.
Sementara itu, pabrik senilai $1 miliar di Turki yang sebelumnya dijadwalkan mulai berproduksi pada akhir 2026 dengan kapasitas tahunan 150.000 kendaraan, justru akan melampaui jumlah tersebut lebih awal. Sumber menyebut produksi akan jauh melebihi 150.000 unit pada 2027 dan terus meningkat pada 2028.
Baca Juga: Seluruh Korban KM Barcelona VA Ditemukan, Menhub Pastikan Proses Evakuasi Tuntas
BYD belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan ini. Para sumber meminta anonimitas karena tidak berwenang untuk membahas rencana produksi secara publik.
Langkah BYD ini mencerminkan tantangan besar bagi produsen mobil Tiongkok dalam membangun pabrik di Eropa untuk menghindari tarif tinggi, namun harus menghadapi biaya upah dan energi yang tinggi di kawasan tersebut. Saat ini, seluruh mobil BYD yang dijual di Eropa dibuat di Tiongkok dan terkena bea masuk serta tarif anti-subsidi Uni Eropa sebesar total 27%.
Artikel Terkait
Koreksi Kontroversial: Media Industri Otomotif China Ralat Laporan Soal Larangan Penjualan Mobil Baru Dalam 6 Bulan
Rosneft Tunjuk Kembali Eks Menteri Energi Qatar sebagai Ketua Dewan Direksi di Tengah Tekanan Sanksi Uni Eropa
Tesla Akhiri Gugatan Hukum terhadap Larangan Penjualan Langsung di Louisiana
Elliott Desak Ketua Baru BP Atasi Kinerja Operasional yang Buruk
Gedung Baru BNN Sulteng Diresmikan, Simbol Komitmen Perangi Narkoba
Dedi Mulyadi Kukuh Larang Study Tour, Sebut Pendidikan Bukan Ajang Piknik
Erick Thohir Kecewa Timnas U-23 Gagal Kalahkan Malaysia: Jangan Hanya Bisa Lawan Brunei..!
Canggih Tapi Kurang Nyaman, Wuling Air ev Dapat Sorotan Soal Jok dan Posisi Duduk
Seluruh Korban KM Barcelona VA Ditemukan, Menhub Pastikan Proses Evakuasi Tuntas
Hadiri Sidang di MK, Lesti Kejora Ungkap Ketidaknyamanan Usai Dilaporkan Terkait Hak Cipta